Zaman Jahiliyah, Ketika Wahyu Tidak Mengatur Kehidupan Manusia

Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, kehidupan manusia sangat hancur. Itulah zaman Jahiliyah, di mana manusia sangat jauh dari kemajuan peradaban. Bukan materi dan intelektual yang tidak mengalami kemajuan, namun jauhnya manusia dari akhlak mulia. Manusia sangat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, hubungan antar manusia pun hanya terkait saling menguntungkan.

Kerusakan-kerusakan moral seperti perzinaan, pembunuhan, mabuk-mabukan dan sejenisnya terjadi di mana-mana. Yang kuat memakan yang lemah, yang lemah dijadikan budak nafsu penguasa. Seoalah tidak ada payung hukum yang berlaku untuk mengadili setiap perbuatan manusia. Mereka hanya berjalan dan berbuat sesuai dengan kehendak hawa nafsunya.

Di masa Jahiliyah, Agama Tidak Lagi Memimpin

Dunia pada saat itu seperti kehilangan jantung hatinya, hilangnya risalah membuat manusia yang hidup di permukaan bumi tidak lagi memiliki aturan. Para penguasa memerintah rakyatnya sesuai kepentingannya. Para rahib dan orang-orang shalih beribadah sembunyi-sembunyi, menjauh dari keramaian manusia.

Keberadaan agama-agama besar pada waktu itu hanya sebagai alat penguasa untuk meraih kemegahan dan kemewahan dunia. Hukum yang berada di tangan mereka hanya berlaku bagi rakyat-rakyat bawahan, bukan untuk kolega-kolega mereka. Karena itu, jika ada rakyat yang melanggar hukum maka mereka tegakkan hukumnya, jika ada koalisi mereka yang melanggar maka mereka urungkan hukumnya.

Kondisi ini persis yang dikabarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadistnya :

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ

“Sesungguhnya faktor penyebab kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Agama pada waktu itu hanya menjadi permainan orang-orang yang berakhlak rendah dan munafik. Sehingga agama pada waktu itu telah kehilangan jiwa dan bentuknya yang semula. Karena saking rusaknya umat pada waktu itu, seandainya para Nabi yang membawa ajarannya melihat umatnya niscaya tidak akan mengenalinya. Mereka hanya menjadikan agama sebagai bahan olok-olok dan permainan.

يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَكُمْ هُزُوًا وَّلَعِبًا مِّنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَۚ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi waly-mu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maaidah [5]: 57)

Pada saat itu, agama-agama besar telah menjadi gelanggang permainan pusat peradaban, kebudayaan, kekuasaan, politik. Lebih parah lagi, bahkan agama saat itu menjadi pusat kekacauan, perpecahan, kerusakan, penindasan dan kesewang-wenangan para penguasa. Agama tidak lagi mampu melaksanakan tujuannya di dunia, tidak pula menyampaikan dakwahnya untuk umat manusia.

Menarik Untuk Disimak:   Gubernur NTT Viktor Laiskodat: Tidak Ada Orang Bodoh dan Miskin Masuk Surga

Agama Nashrani sama sekali tidak memiliki penjelasan, perincian dan rumusan penyelesaian atas masalah-masalah kehidupan manusia, sesuatu yang dibutuhkan untuk tegaknya sebuah peradaban atau dasar bagi berdirinya suatu negara. Agama Nashrani hanya mengandung sisa-sisa ajaran kebaikan yang disampaikan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam, dan adanya bayangan tauhid dalam tingkatan yang sangat sederhana.

Maka wajar jika kemudian timbul perselisihan ditengah-tengah umatnya. Perdebatan mengenai ajaran pokok terjadi di mana-mana. Tidak jarang perdebatan itu berakhir dengan perang senjata dan pembunuhan, penyiksaan dan penyekapan. Sekolah, gereja dan istana menjadi kubu-kubu keagamaan yang saling bersaing, hingga menyeret kerajaan ke dalam kancah perang saudara dan seagama.

Mengenai hal ini, Dr Alfred G. Butler mengatakan sebagaimana dinukil oleh M Faridh Abu Hadid dalam bukunya Fathul ‘Arab li Mishra :

“Hal yang sangat memalukan dalam dua abad itu (6 dan 7 M) ialah terjadinya peperangan berkepanjangan antara bangsa mesir dan bangsa Romawi. Peperangan ini berawal dari pertikaian tentang ras dan agama, kemudian menjadi pertikaian masalah agama yang jauh lebih dahsyat dan mengerikan daripada pertikaian tentang ras. Inilah penyebab paling mendasar terjadinya peperangan tersebut, yaitu permusuhan antara mulkanisme dan monophysisme. Golongan mulkanisme merupakan sekte resmi negara imperium Romawi, pendukung raja dan negara, yaitu kaum menganut keyakinan tradisional yang diwariskan kepada mereka bahwa sesungguhnya al-Masih memiliki sifat kembar. Sedangkan golongan lainnya, yaitu monophysisme merupakan sekte rakyat Egypte (Mesir) yang selalu memojokkan keyakinan golongan pertama dan terus menerus mencelanya serta memeranginya dengan keras juga semangat yang selalu berkobar-kobar. Sukar sekali bagi kita untuk membayangkan atau memberikan pengertian kepada orang-orang yang berakal budi tentang bagaimana sesungguhnya peperangan itu berlangsung, sekalipun orang-orang itu percaya pada kitab injil.” (Fathul ‘Arab li Mishra, hlm. 37-38)

Kaisar Heraclius (610-641 M), setelah kemenangannya melawan bangsa Parsi tahun 628 M, mencoba menyatukan dan mendamaikan sekte-sekte yang sedang bertikai dalam negerinya. Ia melarang membicarakan tentang sifat Al-Masih, apakah tunggal atau kembar. Penduduk diperintahkan untuk meyakini bahwa Tuhan hanya memiliki satu iradah (kehendak) dan satu Qadha’ (ketentuan). Pada tahun 631 M, tercapailah kesepakatan mengenai hal itu dan ditetapkan aliran manuchi sebagai aliran resmi bagi kerajaan yang mendapatkan dukungan dari para pengikut gereja.

Tentu saja hal ini tidak menjadikan agama sebagai pemimpin dan dasar pemerintahan, justru agama dijadikan alat untuk memukul orang-orang yang menentangnya. Siapa yang tidak sefaham dengan kaisar pada waktu itu maka akan dibunuh dan disiksa. Terjadilah pemberontakan-pemberontakan dimana-mana, dan gugurlah ribuan orang karena ambisi penguasa.

Menarik Untuk Disimak:   Alasan Polisi Baru Usut Kasus Rocky Gerung; "Ya, tidak apa-apa toh"

Itulah akibatnya jika agama hanya dijadikan komoditas penguasa untuk melegalkan nafsunya. Mereka hidup berfoya-foya, namun rakyat saling sikut tak tentu nasibnya. Hukum Negara menjadi barang dagangan penguasa, yang diperjualbelikan kepada siapa saja yang punya harta. Manusia pada waktu itu telah kehilangan aturan, hukum rimba yang berlaku, sehingga dunia telah kehilangan ruhnya, maka kerusakan dan permusuhan terjadi di mana-mana.

As-Sayyid Abul Hasan Ali An-Nadwi menyimpulkan tentang kondisi masa itu :

وبالجملة لم تكن على ظهر الأرض أمة صالحة المزاج ولا مجتمع قائم على أساس الأخلاق والفضيلة، ولا حكومة مؤسسة على أساس العدل والرحمة، ولا قيادة مبنية على العلم والحكومة، ولا دين صحيح مأثور عن الأنبياء

“Pada masa itu, pada umumnya tidak terdapat suatu bangsa yang mempunyai tabi’at baik. Tidak ada masyarakat yang berdiri di atas landasan akhlak dan keutamaan, tidak ada pemerintahan yang ditegakkan atas dasar keadilan dan kasih sayang. Tidak ada pimpinan dan pemerintahan yang bertindak atas dasar ilmu pengetahuan, dan tidak ada agama yang benar sebagaimana diwariskan oleh para nabi.” (Madza Khasiral ‘Alam, hlm. 63)

Kondisi itu persis dengan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan:

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا فِيمَا أَنْزَلَ اللَّهُ إلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Selama pemimpin-pemimpin mereka tak berhukum dengan kitab Allah dan mereka tidak memilih (wahyu) yang Allah turunkan kecuali Allah akan menjadikan saling bermusuhan di antara mereka.” (HR Ibnu Majah no. 4019)

Cahaya Islam di tengah Kegelapan

Di tengah gelapnya masa jahiliyyah, datanglah percikan cahaya sebagai harapan datangnya masa yang terang. Mereka telah lama menanti kedatangan utusan Allah, nabi terakhir, yang membawa keselamatan bagi seluruh alam. Dari balik biara-biara dan gereja-gereja, mereka mencari tahu dan menerka-nerka di mana dan kapan juru selamat itu datang.

Munculnya cahaya kecil dalam hati sebagai harapan mereka di tengah gelapnya masa saat itu memberikan semangat sebagian untuk tetap hidup. Cahaya kecil yang disiratkan dari kitab-kitab suci mereka memberikan kabar bahwa datangnya nabi terakhir sudah semakin dekat. Mereka adalah orang-orang yang istimewa, mereka laksana orang yang tenggelam di laut berusaha menyelamatkan diri dengan kepingan-kepingan perahu yang hancur di terjang badai.

Sedikitnya orang yang mencari kebenaran saat itu bisa kita lihat dari kisah Salman Al-Farisi. Seorang Persia yang mengembara ke barat dan ke timur untuk mendapatkan orang yang mampu membimbingnya ke jalan yang benar. Dari setiap tempat yang ia datangi, ia mendapat nasihat untuk datang kepada orang lain, dan seterusnya hingga empat kali. Ketika mau berpisah dengan orang yang keempat, ia mengatakan :

Menarik Untuk Disimak:   INNALILAHI! Tsunami Banten dan Lampung, Korban Tewas 20 Orang, Ini Video Amatir Detik-detik Kejadian

إِنِّي كُنْتُ مَعَ فُلَانٍ، فَأَوْصَى بِي فُلَانٌ إِلَى فُلَانٍ، وَأَوْصَى بِي فُلَانٌ إِلَى فُلَانٍ، ثُمَّ أَوْصَى بِي فُلَانٌ إِلَيْكَ، فَإِلَى مَنْ تُوصِي بِي، وَمَا تَأْمُرُنِي؟ قَالَ: أَيْ بُنَيَّ، وَاللهِ مَا أَعْلَمُهُ أَصْبَحَ عَلَى مَا كُنَّا عَلَيْهِ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ آمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَكِنَّهُ قَدْ أَظَلَّكَ زَمَانُ نَبِيٍّ هُوَ مَبْعُوثٌ بِدِينِ إِبْرَاهِيمَ يَخْرُجُ بِأَرْضِ الْعَرَبِ

“Dulu aku bersama Fulan, kemudian ia berwasiat kepadaku untuk menjumpai Fulan. Dan lantas ia berpesan kepadaku untuk menemui Fulan. Dan selanjutnya berwasiat untuk mendatangimu. Kepada siapakah engkau berwasiat bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Dia menjawab,”Wahai anakku. Aku tidak mengetahui ada orang yang masih berada di atas ajaran kami yang aku memerintahkan kepadamu untuk menjumpainya. Akan tetapi, telah datang kepadamu masa nabi (yang baru). Ia diutus di atas agama Ibrahim, bangkit di tanah Arab, melakukan hijrah ke tempat antara dua bukit batu yang pernah terbakar. Di sana tumbuh pohon kurma. Pada dirinya terdapat tanda-tanda yang tidak tersembunyi; mau makan hasil hadiah, tidak makan sedekah. Di antara dua pundaknya terdapat tanda kenabian. Jika engkau bisa pergi ke negeri itu, lakukanlah!” (HR. Ahmad no. 23737)

Namun, setelah Islam memancarkan sinarnya terang benderang di seluruh penjuru dunia, manusia ingin kembali lagi ke masa kegelapan Jahiliyah. Agama mulai dihempaskan kecuali hanya pakaian dan ritual saja. Mereka ingin menjauhkan manusia dari agama dan berhukum dengan hukum Jahiliyah seperti dulu kala. Hanya orang-orang yakin kepada Allah yang menolak hukum Jahiliyah diterapkan.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah : 50)

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa kerusakan di dunia ini terjadi karena manusia meninggalkan risalah para Nabi. Agama tidak lagi dijadikan solusi semua problem kehidupan. Padahal terdapat isyarat dari kitab-kitab terdahulu bahwa risalah Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam akan membawa keselamatan manusia. Sehingga yang terjadi adalah kerusakan dan permusuhan antar manusia yang tak ada ujungnya. Wallahu ‘alam bish showab.

Penulis: Zamroni
Editor: Arju

Sumber: Madza Khasiral Alam bi Inhithotil Muslimin
[kiblt.net]

Tinggalkan Balasan