Pernah Berjaya Dalam Naungan Khilafah Abbasiyah, Kini Kasbah Terancam Punah

Meski era kejayaannya telah berlalu delapan abad silam, sejarah peradaban Islam tetap mencatat kota Tunis sebagai pusat ilmu pengetahuan. Aktivitas keilmuan menggeliat di kota itu seiring berdirinya Universitas Al-Zaituna. Infrastuktur transportasi Jalan-jalan yang bagus menghiasi kota Tunis. Jalanan ini menghubungkan satu tempat ke tempat lainnya. Sarana transportasi seperti kuda sudah tersedia. Kasbah Kota Tunis dikelilingi oleh tembok yang sangat kuat. Tembok ini menjadi benteng pertahanan.

UNESCO menyebut Kasbah sebagai bentuk kota Islam yang unik karena pada abad 16 dan 17 Kasbah berpengaruh besar pada perencanaan kota di Afrika Utara, Andalusia, dan negara-negara di benua Afrika yang tidak dianggap termasuk bagian Afrika Utara.

Menarik Untuk Disimak:   Khilafah Islam Pelopor Revolusi Hijau Abad Pertengahan

“Bentuk unik medina, atau kota Islam, merujuk pada pengaruh besar pada perencanaan kota di Afrika Utara, Andalusia dan Afrika sub-Sahara,” sebut UNESCO seperti dilansir laman Aramcoworld, Kamis (20/12).

Pada 1992, UNESCO menempatkan situs bersejarah tersebut dalam Daftar Warisan Dunia. Kemudian, pada 2003 Pemerintah Kota Aljir menetapkan Kasbah sebagai sektor yang dilindungi untuk mencegah kerusakan bangunan perkotaan. Karena kurangnya perhatian, belakangan telah diancam dengan pencabutan izin oleh PBB.

Arsitek Zekagh Abdelwahab telah lama mengurus Rencana Kementerian Budaya Aljazair untuk melindungi Kasbah, khususnya terkait perbaikan untuk rumah-rumah yang terancam ambruk. Memang, banyak bangunan yang saat ini hampir roboh, dinding miring, dan banyak balkon retak yang menjorok ke jalan-jalan.

Menarik Untuk Disimak:   Tak Banyak yg Tahu! Begini Detik-detik China GEMETAR di Hadapan Khilafah Islam Zaman Al-Walid di Bawah Komando Qutaibah

Setidaknya, ada 700 rumah yang telah mendapat perhatian Abdelwahab. “Kasbah telah menerima banyak penghinaan karena kerusakan akibat gempa hingga fondasi batu yang hancur karena bocornya pipa air,” kata Abdelwahab.

Dia mengatakan, selama proses perbaikan, sebagian besar rumah masih ditempati oleh penyewa yang menolak untuk pergi. Tapi, Abdelwahad tetap bekerja di sekitar mereka.

Abdelwahab dan tim arsiteknya sangat kecewa dengan kehadiran rumah pertunjukan yang dibangun Prancis pada tahun 1930. Pasalnya, rumah tersebut dibangun dari bagian bangunan istana bersejarah dan rumah lain yang telah mereka robohkan selama 100 tahun sebelumnya. [republika.co.id]

Tinggalkan Balasan