Senin , 20 November 2017

Utang-Utang yang Terus Ditumpuk Dibayar Pakai Apa?

Target pajak Per 30 September 2017 baru mencapai Rp 770,7 triliun, atau hanya 60 persen dari target pemerintah yang dipatok dalam APBN-P 2017 sebesar Rp 1.283,6 triliun.

“Kalau kita lihat lebih detail maka total penerimaan Pajak sebesar Rp770,7 triliun tersebut mengalami pertumbuhan yang menurun sebesar minus 2,79 persen dibandingkan dengan tahun yang serupa. Dari data itu saya khawatir pemerintah akan mengalami kesulitan untuk memenuhi target penerimaan pajak di akhir tahun ini,” lirih Heri Gunawan anggota Komisi XI DPR itu saat dihubungi di Jakarta, Senin (13/11/2017).

“Dan sebab itu, saya meminta pemerintah untuk lebih realistis dalam menentukan target penerimaan di tengah kondisi perekenomian yang serba tidak pasti. Jika tidak, hal itu hanya akan memberikan beban lebih besar kepada pemerintah di tahun-tahun ke depannya,” tambah Politikus Gerindra itu.

Baca Juga  Per Akhir September, Utang Pemerintah Jokowi-JK Kian Melonjak Jadi Rp3.866,45 Triliun

Menurutnya, penerimaan pajak yang tak sesuai ekspektasi karena pemerintah tak mampu membaca pergerakan komoditas.

“Saya melihat pemerintah menghadapi banyak tantangan dalam hal perpajakan. Sebagai misal, realisasi Pajak Migas yang menurun. Tahun 2016 realisasinya hanya mencapai Rp44,9 triliun atau hanya 65,3 persen dari APBN-P TA 2016. Sementara itu, realisasi PPh Migas cenderung sulit meningkat karena melemahnya harga komoditas di pertengahan tahun 2017 ini,” ungkapnya.

Di sisi lain, kata dia, reformasi perpajakan nasional pelaksanaannya belum maksimal.

Untuk diketahui, terang dia, tax ratio Indonesia adalah yang terendah di dunia, yakni hanya 11 persen.

Baca Juga  Dakwah Islam Terus Berkembang di El Savador

Pada ujungnya, kata dia, hal tersebut akan berimplikasi pada pembayaran beban utang yang jatuh tempo.

“Lalu, utang-utang yang terus ditumpuk dibayar pakai apa di tengah-tengah adanya gap antara realisasi pendapatan dan belanja, di tengah-tengah realisasi pajak yang terus melenceng, di tengah-tengah angka tax ratio yang rendah?” tanya dia.

Akhirnya, sindir Heri, semua hal menjadi tidak wajar. Pemasukan pajak rendah, tapi pemerintah masih berani menumpuk utang.

Yang jelas, kata dia, pemerintah akan kesulitan merealisasikan pendapatan pajak sesuai target.

“Saya khawatir pemerintah akan sulit merealisasikan target penerimaan pajak tahun ini, terutama target PPh Migas dan Penerimaan Bea Cukai yang stagnan,” ungkap dia.

Menurutnya, tantangan terbesar pemerintah adalah soal ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global serta turunnya harga komoditas.

Baca Juga  Demi Pelabuhan Patimban Jabar, Pemerintah Rela Utang Rp14,3 Triliun

“Belajar dari pengalaman 2016 saja realisasinya hanya 65 persen dari target. Yang terbaru, penerimaan Bea Cukai Per Juni 2017 hanya mencapai 30,12 persen. Jika kita lihat trendnya, maka fakta menunjukkan bahwa realisasi penerimaan pajak terus melenceng dari rencana,” ungkap dia.

Untuk diketahui, terang dia, Tahun 2015, realisasinya hanya Rp1.285 triliun atau melenceng dari target APBN-P sebesar 1.489 triliun. Tahun 2016 juga melenceng dari target APBN-P TA 2016 sebesar Rp1.539,2 triliun.

Sebab itu, saran dia, pemerintah musti bekerja lebih ekstra lagi untuk mewujudkan seluruh target yang telah dipatok.

“Melakukan reformasi perpajakan secara serius, dan mematok target penerimaan pajak dalam APBN yang lebih realistis,” pungkasnya. (icl)

teropongsenayan.com, 13/11/2017

Shares