Sabtu , 16 Desember 2017

Utang Bengkak dan Pertumbuhan Rendah, Ekonomi Indonesia Sedang Sakit

Analis kebijakan publik Abdurchim Kresno mengatakan, sebagian janji-janji kampanye Presiden Jokowi yang tertuang di Nawacita, dalam proses pengerjaan. Namun, terdapat masalah pada aspek lain, yakni aspek ekonomi negara yang makin memburuk atau mengalami sakit.

Menurut dia, program Nawacita yang antara lain akan membangun dari pinggiran desa, Indonesia Timur, membangun poros maritim, membangun kesejahteraan rakyat yang saat ini sedang diupayakan oleh pemerintahan, tapi kebijakan-kebijakan ekonomi malah terdapat banyak bertentangan dengan Nawacita.
“Kebijakan ekonomi malah menyengsarakan rakyat banyak, bahkan juga membahayakan perekomian kita dimasa depan. Kebijakan-kebijakan itu antara lain besarnya dan cepatnya hutang yang menumpuk,” ujar dia secara tertulis, Minggu (22/10).

Wow!:  AEPI: Ekonomi Indonesia di Bawah Kepemimpinan Jokowi Makin Terpuruk

Dalam waktu 2,5 tahun sejak dilantik, (sampai Juni 2017), kata dia, tambahan utang pemerintah sudah mencapai Rp 1098 triliun, bahkan lebih besar dari 3 kali lipat dari tambahan utang yang dibuat SBY selama 5 tahun ( 2004-2009 ) yang besarnya hanya Rp 315 triliun .

Semakin riskan, utang pemerintah tidak memberi pengaruh postif bagi pertumbuhan ekonomi. Seperti pada tahun 2015 misalanya, hanya tumbuh 4,79% (terendah selama 6 tahun) , 2016 tumbuh 5,02 dan semester 1 2017 (kwartal 1 dan 2) hanya tumbuh 5,01%.

Wow!:  Jokowi: Keragaman Di Indonesia Sudah Jadi Hukum Allah

“Bukan hanya pertumbuhan ekonomi saja yang rendah tetapi juga kenyataan dilapangan terjadi kelesuan ekonomi, daya beli konsumen yang melemah . Walaupun pemerintah mengeles dengan berbagai alasan seperti karena adanya pergeseran dari bisnis konvensional kepada bisnis online , tetapi data BPS tidak bisa dibantah bahwa ekonomi hanya tumbuh mendatar 5 persen,” ujar dia.

Wow!:  Dirjen Pajak Menkeu: Orang Indonesia itu paling pelit bayar pajak, Padahal Dalam Sehari harus Cari Rp 3 triliun

“Dalih bahwa adanya tabungan di bank yang meningkat berarti pemilik uang tidak yakin bahwa kalau uangnya diinvestasikan akan menguntungkan . Bisa-bisa malah merugi, karena itu disimpan di bank,” tambahnya.
Persolan pemerintah menghadapi kendala ekonomi ini terlihat jelas pada struktur RAPBN 2018 yang hanya mentargetkan pertumbuhan 5,4%, angka ini dinilai sangat rendah, dia membandingkan negara Filipina pada 2016 tumbuh 6,8 %, Vietnam tumbuh 6,2% . Sedangkan target kedua negara itu pada 2017 ini tumbuh di atas 6,5%.

sumber: aktual.com

Shares