Sabtu , 16 Desember 2017

Sakit, Anas Urbaningrum batal bersaksi di kasus e-KTP

Anas Urbaningrum terpidana kasus suap wisma atlet di Hambalang absen dari permintaan Jaksa Penuntut Umum KPK guna menjadi saksi pada persidangan korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong di Pengadilan Negeri Tipikor, Jakarta Pusat. Meski Anas tidak hadir, persidangan tetap dilanjutkan dengan mendengarkan keterangan tiga orang saksi.

“Seharusnya kami menghadirkan saksi empat orang, tetapi saksi Anas Urbaningrum tidak bisa hadir karena sakit,” ujar Jaksa KPK Irene Putri, Senin (23/10).

Sementara saksi-saksi yang hadir pada persidangan hari ini adalah Isnu Edhi Wijaya, mantan Dirut PNRI 2009-2012, Indri Mardiani, mantan koordinator keuangan management bersama, dan Andres Ginting; ketua management bersama. Dalam proses pembahasan proyek e-KTP, sejumlah konsorsium yang tergabung dalam tim Fatmawati membentuk management bersama. Fungsinya mengatur alur masuk keuangan konsorsium proyek e-KTP.

Wow!:  Soal Kasus Pimpinan KPK, Presiden Minta Polri Tak Buat Gaduh

Sebelumnya saat sidang dengan terdakwa Irman dan Sugiharto, Anas Urbaningrum pernah memberikan kesaksian. Dalam kesempatan itu, Anas membantah ada aliran uang panas e-KTP ke perhelatan kongres pencalonan dirinya sebagai ketua umum partai Demokrat.

“Tahu ada aliran uang pada pelaksanaan kongres?” tanya ketua hakim John kepada Anas, Kamis (6/4).

“Dari e-KTP saya pastikan tidak ada,” jawab Anas.

Anas mengakui sebelum adanya kongres di Bandung tahun 2010, ada konsolidasi relawan di Hotel Sahid. Sekitar 350 peserta hadir dalam acara tersebut. Peserta yang hadir, dipesankan kamar untuk menginap.

Uang pembayaran kamar tersebutlah yang disebut Nazar merupakan uang panas dari proyek e-KTP, dan kemudian dibantah oleh mantan ketua umum Demokrat itu.

“Kalau ada yang sebut ada uang mengalir dengan sebutan detil pembayaran hotel dan sebagainya anda pernah dengar?” tanya hakim.

Wow!:  Permadi Bandingkan Kasus Pimpinan KPK dengan Viktor Laiskodat

“Justru hal hal detil itu sudah disampaikan di persidangan uang itu datang dari mana dibelanjakan apa sangat lengkap saudara Yulianis intinya adalah uang masuk uang keluar dari tempat saudara Nazar ujungnya ada sisa yang justru dipakai saudara Nazar. jadi kalau itu jalan ceritanya sebetulnya bukan sumbangsih tapi jadi keuntungan,” ucap Anas menjelaskan.

Sebelumnya saat Muhammad Nazaruddin hadir menjadi saksi di persidangan kasus korupsi proyek e-KTP di Pengadilan Negeri Tipikor, Jakarta Pusat, menyebut Anas Urbaningrum menerima Rp 500 miliar dan USD 3 juta dari Andi Agustinus alias Andi Narogong.

Nazar menjelaskan uang tersebut secara langsung tidak berkaitan dengan kegiatan partai Demokrat. Namun disebutkan terdapat alokasi sebesar USD 100.000 untuk Jafar Hafsah menjabat sebagai ketua Fraksi Demokrat di DPR, menggantikan Anasyang terpilih menjadi ketua umum Demokrat.

Wow!:  Tuntaskan Kasus Novel, Jenderal Atau Kopral Harus Diusut

“Apa uang dari Andi Narogong terkait e-KTP?” Tanya ketua hakim Jhon Halasan Butar Butar kepada Nazar, Senin (3/4).

“Iya yang mulia, ada,” jawab Nazar.

“Apa uang itu ada keperluan juga untuk partai?” Kembali hakim bertanya.

“Keperluan partai secara langsung tidak ada, tapi waktu itu setelah mas Anas terpilih jadi Ketum, ganti ketua fraksi Jafar Hafsah, Mas Anas bilang bantulah USD 100.000,” ucap mantan bendahara umum Demokrat itu.

Tidak sekedar menggelontorkan uang untuk “kontribusi” Jafar Hafsah sebagai ketua fraksi. Nazar menyebutkan Khatibul Umam Wiranu juga mendapat sokongan dana sebesar USD 400.000 untuk maju sebagai ketua GP Anshor yang mana kongres dilakukan di Surabaya, Jawa Timur.

[eko]

sumber: merdeka

Shares