Sabtu , 25 November 2017

Pembantaian Aleppo, “Saya tak Percaya Lagi PBB”

post-feature-image

Media Pribumi – Di tengah keputusasaan, warga Aleppo menyebar ucapan selamat tinggal lewat media sosial. Kelambanan global dalam membantu warga di Suriah, membuat penderitaan mereka yang terjepit di tengah konflik semakin menyedihkan, demikian dewe memberitakan Rabu 14 Desember.

Inilah situasi hari-hari terakhir di Aleppo, Suriah ketika pasukan pemerintah yang setia pada Presiden Suriah Basyar al Assad berhasil mengusir pejuang oposisi keluar dari kawasan itu.

Di tempat penampungan bawah tanah dan rumah duka, para dokter memohon bantuan. Sementara, kediaman warga dibom tanpa henti, terutama di distrik-distrik yang tersisa di bawah kendali oposisi di Aleppo. Warga pun mulai mem-posting ucapan selamat tinggal lewat media sosial dan dalam pesan-pesan yang beredar luas. Mereka seolah ingin memiliki kata akhir dalam perang tanpa ampun ini.

“Tidak ada tempat sekarang untuk pergi, ini adalah hari-hari terakhir,” kata Abdulkafi Alhamdo, seorang guru bahasa Inggris yang mengkritik kekejaman pemerintah Presiden Bashar Assad.

Wow!:  3 Tahun Jokowi-JK, Ruang Berekspresi Dipersempit dengan UU

Alhamdo berbagi pesan dan menceritakan situasi lewat media sosial video streaming Periscope. Ia menceritakan bagaimana pasukan pemerintah semakin mendekat. “Di sini hujan, bunyi bom sedikit lebih tenang. Pasukan pemerintah Basyar Assad mungkin 300 meter jaraknya. Tidak bisa kemana-mana. Ini adalah hari-hari terakhir. Saya berharap kami bisa berbicara lagi dengan kalian di Periscope. Saya pikir kami telah berbagi banyak momen tentang Aleppo.”

Dengan menahan kepedihan, ia melanjutkan: ” Saya tidak tahu harus bicara apa lagi… Saya harap Anda bisa melakukan sesuatu untuk rakyat Aleppo. Untuk putri saya, untuk anak-anak lainnya juga,” katanya dalam video penuh rasa emosional.

Seorang pria berjalan di antara reruntuhan gedung-gedung di kawasan al Qaterji, Aleppo yang hancur luluh akibat serangan udara saat pecah pertempuran antara pasukan pemerintah melawan kaum pemberontak..

“Saya tak percaya lagi PBB, atau masyarakat internasional. Sepertinya mereka puas kami terbunuh,” lanjutnya. Kami menghadapi situasi paling sulit, pembantaian paling mengerikan dalam sejarah baru-baru ini. Rusia tak ingin kami keluar dari sini hidup-hidup, mereka ingin kami mati. Setali tiga uang dengan keinginan Assad.”
Peran medsos Pandangan dunia atas konflik yang merebak di Suriah tak lepas dari media sosial: YouTube, Twitter, Periscope, Facebook dan lainnya. Hal ini membuat konflik di Suriah menjadi salah satu perang yang paling didokumentasikan di dunia melalui video dan laporan amatir. Sumber-sumber yang tersebar di media sosial berperan besar bagi aktivis HAM dalam mencatat segala hal tentang perang ini secara rinci dan menjadi amunisi untuk melobi untuk respon dunia.

Wow!:  Pengamat Intelijen: Registrasi Kartu Prabayar Mutlak Ditunda, Sampai ada Perlindungan Data Konsumen

Dalam videonya, Abdulkafi Alhamdo melanjutkan kata-katanya dengan terbata-bata: “Kemarin-kemarin, ada banyak perayaan di bagian lain Aleppo, mereka merayakan jenazah kami. Oke, inilah hidup.. Tapi setidaknya kami tahu bahwa kami adalah orang-orang bebas. Kami ingin kebebasan, tak ada yang lain, hanya kebebasan. Tapi ini bukan kebebasan. Tak percaya bahwa kau bukan lagi orang bebas di negaramu sendiri. Dunia ini tak inginkan kebebasan. Ini bukan kebebasan.”

Wow!:  Sebut Jilbab Budaya Asing dan Pakaian Adat Itu Pribumi, Pendeta Gilbert Dikecam Publik

Ribuan warga di Aleppo yang sebelumnya dikuasai pemberontak telah makin terpojok ketika pasukan pemerintah Suriah, yang didukung oleh Rusia menolak seruan gencatan senjata. Kelompok hak asasi membuat “permohonan mendesak” agar semua pihak yang terlibat konflik melindungi penduduk sipil.

Namun di sebuah pojok di Aleppo, dimana pasukan pemerintah makin mendekati hanya dalam jarak 300 meter, di tengah hujan yang turun, nampaknya Abdulkafi Alhamdo telah putus asa atas apa yang disebut ‚kelambanan global‘ dalam bertindak mengatasi situasi di Suriah, yang sudah di luar batas kemanusiaan. Abdulkafi Alhamdo menutup kata-katanya kepada kita semua: “Saya harap kalian mengingat kami. Terima kasih.”

Bahkan seperti diceritakan Aljazeera, banyak gadis Muslimah Aleppo, meminta kepada ayahnya untuk menembak atau membunuhnya sebelum dirinya menjadi tawanan dan diperkosa oleh tentara rejim Suriah, Milisi Iran dan Hebollah Lebanon. [suara-islam]

Shares