Jumat , 15 Desember 2017

Parah! Anggota DPR dari Fraksi Golkar ini Gunakan Kata “Pengajian” sebagai Kode Melakukan Aksi Suap

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap anggota DPR dari Fraksi Golkar Aditya Moha dan Ketua Pengadilan Tinggi Manado Sudiwardono terkait dugaan suap.

Dalam melancarkan aksi haram tersebut, ternyata mereka mempunyai kode khusus agar tidak mudah terbaca oleh orang lain, khususnya aparat penegak hukum.

Kata “pengajian” mereka jadikan kode untuk melakukan aksi suap.

Wow!:  "BPJS Kesehatan Masih Bisa 'Survive', Kuncinya Optimalkan Pajak Dosa"

“Mereka menggunakan kode, mohon maaf, pengajian. Jadi kodenya pengajian kapan, tempat di mana. Ini jarang juga digunakan,” kata kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dalam jumpa pers di Gedung Merah Putih, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Sabtu (7/10/2017).

Laode menyatakan istilah itu digunakan untuk menyamarkan rencana pertemuan.

Wow!:  Habib Kholilullah: "Menyetujui (Perppu Ormas) berarti menunjukkan dukungan Rezim diktator"

“Antara pemberi dan penerima (suap) yang sekarang sudah ditetapkan tersangka, mereka memakai istilah itu. Jadi untuk bertemu dikamuflase dengan kata “pengajian”,” kata dia.

Kedua tersangka suap tersebut yakni Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara Sudiwardono dan anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Aditya Anugrah Moha. Aditya diduga memberikan uang untuk mempengaruhi putusan Sudiwardono.

Wow!:  Mencari Generasi Ibnu Rawahah! Mata Pena Yang Tajam, Sekali Dibacakan Terhujamlah Semangat Islam

Sudiwardono adalah ketua majelis hakim yang menangani perkara banding yang diajukan Bupati Bolaang Mongondow Sulawesi Utara sekaligus ibunda Aditya, Marlina Moha Siahaan.

Marlina menjadi terdakwa korupsi tunjangan penghasilan aparatur pemerintah desa (TPAPD) yang telah divonis lima tahun penjara. Marlina kemudian mengajukan banding di Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara atas putusan tersebut. (kriminalitas, 8/10/2017)

Shares