Sabtu , 16 Desember 2017

Neoliberal Yang Sengsarakan Rakyat, Menyelinap Diantara Nawacita

NEOLIBERAL adalah sistim perekonomian yang merupakan kebangkitan kembali dari perekonomian Liberal yang berbasis kepada prinsip Laissez – faire yang pada intinya memberikan peranan yang luas kepada swasta dan mengurangi peranan pemerintah didalam mengatur perekonomian negara. Perekonomian liberal pernah menimbulkan depresi besar di Aerika Serikat , mengakibatkan pengangguran sampai dengan 25% pada tahun 1930an. Akibat depresi besar ini menimbulkan teori ekonomi baru yang dirilis oleh John Maynard Keynes dalam bukunya yang berjudul The General Theory of Employment , Interest and Money yang terbit tahun 1936 . Dalam buku itu pada iintinya Keynes menganjurkan campur tangan pemerintah dalam mengatur ekonomi negara untuk mecegah terjadinya dampak buruk dari resesi dan depresi ekonomi .

Kebijakan ekonomi Neoliberal pada intinya adalah LIBERALISASI EKONOMI, misalnya austerty (penghematan belanja pemerintah), privatisasi (penjualan perusahan2 milik negara baik sebagian kecil , besar atau seluruhnya), anti kepada subsidi dalam bentuk apapun dan kepada siapapun , deregulasi (seminimal mungkin peraturan pemerintah), perdagangan bebas, tax cutting (pemotongan pajak agar perusahaan-perusahaan swasta bergairah melakukan usahanya) dsb. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Neoliberalism

Neoliberal muncul pada tahun 1980an ketika Magaret Tatcher menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris pada tahun 1979 – 1990 dan Romald Reagan menjadi Presiden Amerika Serikat pada tahun 1981 – 1989.Tatcher menghadapi inflasi yang tinggi sampai 16 % , serikat buruh yang terlalu kuat , perekonomian yang melambat terutama di sektor manufaktur dan sektor manufaktur yang berdaya saing rendah . Ronald Reagan menghadapi resesi ekonomi yang terbesar sejak 1930 dan pengangguran yang mencapai 10,8% ,
Pada tahun2 awal pemerintahan Tatcher tahun2 awal1980an menggunakan prinsip Monetarisme terutama untuk mengendalikan inflasi yang tinggi , yaitu dengan mengendalikan suplai uang beredar , dengan menaikkan sukubunga , menaikkan pajak dan mengurangi belanja pemerintah (penghematan/austerity).Kebijakan ini berhasil menurunkan inflasi, tetapi karena mata uang poundsterling menguat maka menjadi melemahkan perekonomian Inggris , pengangguran meningkat dan penurunan sektor manufaktur .Terbukti kemudian bahwa kebijakan pengurangan uang beredar tidak efektif dan pada 1984 kebijakan ini dihentikan.

Kebijakan Tatcher kemudian berganti menjadi privatisasi perusahaan2 negara di-sektor2 industri yang penting atau utama , mengurangi regulasi pemerintah ( deregulasi ) untuk meningkatkan persaingan di pasar , mengurangi kekuatan serikat buruh dan mengurangi pajak penghasilan . Akibat dari kebijakan ini berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi Inggris lebih dari 5% , harga properti naik , belanja masyarakat naik tetapi juga menaikkan inflasi lagi lebih dari 10%. Untuk mengatasi inflasi ini ikeluarkan kebijakan2 ekonomi yang mengakibatkan terjadi resesi ekonomi lagi ditahun 1991-1992. http://www.economicshelp.org/blog/glossary/thatcher-economic-policies/

Wow!:  Kebijakan Pemerintah Pada Sektor Kelistrikan, Kini tak Berpihak Pada Rakyat

Empat pilar utama kebijakan ekonomi Ronald Reagan adalah mengurangi belanja pemerintah (penghematan/austerity), mengurangi pajak termasuk pajak capital gain , mengurangi regulasi (deregulasi) , dan mengurangi suplai uang beredar untuk mengurangi inflasi. Akibat dari kebijakan ekonomi Ronald Reagan ini utang pemerintah meningkat tiga kali lipat dalam delapan tahun dan menjadikan Amerika Serikat dari negara kreditor (pemberi utang) terbesar didunia menjadi negara debitor (pengutang) terbesar didunia hanya dalam 8 tahun. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Reaganomics

Perekonomian Neoliberal ini banyak sekali diterapkan oleh IMF dalam ” “membantu ” negara-negara yang sedang dalam kesulitan ekonomi di Amerika Latin , a.l. Argentina , Indonesia dan terakhir Yunani dan semuanya gagal dan malah memperparah kondisi ekonomi negara2 tersebut. ARgentina justru malah mengalami kisis besar di taun 2001 , Indonesia justru ekonominya anjlok ke minus 13% , Yunani GDP nya mengecil menjadi sepertiganya dan hutangnya kustru membesar dari 130% GDP menjadi 170% GDP . IMF sendiri akhirnya mengakui kegagalan dari Neoliberalisme. http://fortune.com/2016/06/03/imf-neoliberalism-failing/

Presiden Jokowi pada waktu kampanye menjanjikan program Nawavita yang antara lain akan membangun dari pinggiran , dari desa , dari Indonesia Timur , membangun poros maritim ,membangun kesejahteraan rakyat dsb . Janji2 tersebut sebagian telah dipenuhi walaupun masih memerlukan proses , seperti Kartu Indonesia Sejahtera , Kartu Indonesia Pintar , Program Keluarga Harapan , dicairkannya Dana Desa 60 Trilyun , pembangunan infrastruktur di – nana2 termasuk di Papua yang sangat cepat . Namun didalam kebijakan2 ekonominya banyak yang bertentangan dengan Nawacita , menyengsarakan rakyat banyak bahkan juga membahayakan perekomian kita dimasa depan .kebijakan2 iu antara lain besarnya dan cepatnya hutang yang menumpuk . Dalam hanya 2,5 tahun ( sampai Juni 2017 ) tambahan utangnya sudah mencapai 1098 Trilyun jauh lebih besar , bahkan lebih besar dari 3 kali lipat dari tambahan utang yang dibuat SBY selama 5 tahun ( 2004 – 2009 ) yang besarnya hanya 315 Trilyun .

Wow!:  Pelarangan jilbab di sekolah memicu kemarahan Muslim Kenya

Bahkan tambahan utang pemerintah Jokowi selama bulan Juli 2017 ( hanya dalam 1 bulan ) sebesar 73,47 Trilyun. http://bisnis.liputan6.com/read/3061695/dalam-sebulan-utang-pemerintah-tambah-rp-7347-triliun

Disatu pihak utang pemerintah meledak sangat tinggi tetapi justru pertumbuhan ekonomi hanya rendah saja. Menurut data BPS tahun 2015 hanya tumbuh 4,79% (terendah selama 6 tahun) , 2016 tumbuh 5,02 dan semester 1 2017 ( kwartal 1 dan 2 ) hanya tumbuh 5,01% padahal ada THR , gaji ke 13 , Lebaran dsb. Bukan hanya pertumbuhan ekonomi saja yang rendah tetapi juga kenyataan dilapangan terjadi kelesuan ekonomi , daya beli konsumen yang melemah . Walaupun pemerintah mengeles dengan berbagai alasan seperti karena adanya pergeseran dari bisnis konvensional kepada bisnis online, tetapi data BPS tidak bisa dibantah bahwa ekonomi hanya tumbuh mendatar, 5% . Dalih bahwa adanya tabungan di bank yang meningkat berarti bukan daya beli yang melemah malah menunjukkan bahwa pemilik uang tidak yakin bahwa kalau uangnya diinvestasikan akan memguntungkan . Bisa2 malah merugi, karena itu disimpan di bank yang keuntungannya pasti jauh lebih kecil dari pada diinvestasikan bila keadaan perekonomian sehat .

Apalagi RAPBN 2018 hanya mentargetkan pertumbuhan 5,4% , rendah sekali (2016 Filipina tumbuh 6,8 %, Vietnam tumbuh 6,2% . Target 2017 Filipina dan Vietnam tumbuh diatas 6,5%) .

Mengapa bisa demikian ? Sebenarnya pelemahan daya beli itu sudah dimulai dari ketika Presiden Jokowi mulai menjabat , langsung mencabut subsidi BBM , dimana biaya transportasi rakyat langsung meningkat naik . Tanpa disadari ini adalah langkah yang sejalan dengan perekonomian Neoliberal yang sangat anti subsidi kepada sektor manapun . Subsidi dipandang sebagai distorsi ekonomi dan dikatakan dengan bahasa sederhana sebagai membakar uang dijalan . Tetapi sesungguhnya subsidi BBM selama inilah yang menhidupkan perekonomian rakyat , mendukung transportasi dan logistik barang dan jasa yang terjangkau . DR Rizal Ramli sering mengatakan bila subsidi mau dikurangi atau dihapus maka taraf perekonomian rakyat harus dtingkatkan dahulu agar rakyat mampu membelinya .

Kebijakan ekoomi yang memberatkan dan memperlemah daya beli rakyat ini dipertajam lagi dengan masuknya Sri Mulyani Indrawati kedalam kabinet Presiden Jokowi yang langsung me-motong2 APBN 2016 sebesar 133 Trilyun setelah Menteri Keuangan sebelumnya Bambang Brodjonegoro juga memotong 50 Trilyun . Total pemotongan sebesar 183 Trilyun ini dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi 2016 yang hanya 5,02% berakibat besar kepada perekonomian , menyebabkan lemahnya daya beli seperti dikonfirmasi oleh BPS bahwa bulan Agustus 2017 telah terjadi deflasi .

Wow!:  Secara ekonomi, tidak masuk. Tapi ngotot. Apa Hubungannya Kereta Cepat Jakarta-Bandung dengan Meikarta?

Pemotongan anggaran oleh SMI ini menunjukkan langkah perekonomian Neoliberal yang disebut dengan austerity (penghematan anggaran pemerintah). Langkah ini juga dilanjutkan dengan pemotongan subsidi listrik pelanggan PLN untuk daya sebesar 900 VA sebesar 15 Trilyun .Selain itu juga dinaikkannya tarif PLN untuk pelanggan2 yang lain . Langkah IMF dalam rangka ” membantu ” Yunani yang menyebabkan krisis di Eropa (EU) juga memotong uang pensiunan dalam rangka austerity (penghematan belanja pemerintah) . SMI juga sudah mulai menyinggung masalah uang pensiunan walaupun masih belum jelas arahnya (penambahan atau pengurangan atau pengurangan yang ditampilkan seperti penambahan). https://thewire.in/56362/imf-and-greece-crisis/

SMI yang pernah mengabdikan loyalitasnya dan menimba ilmu di IMF sebagai Direktur Asia Tenggara 2002 – 2004 dan di Bank Dunia sebagai salah satu dari 3 orang Managing Director 2010 – 2016 adalah penganut mazhab Neoliberal. Dapat dilihat dari kebijakan2 nya yang utama adalah austerity (pemotongan anggaran pemerintah) , mengurangi atau mencabut subsidi (harga BBM dijanjikan tidak naik hanya sampai akhir tahun ini . Tahun depan pasti naik) mengejar – ngejar pajak (ribuan peserta tax amnesty masih akan diperiksa lagi) dan privatisasi BUMN (sudah mulai diwacanakan).

Pelemahan ekonomi yang terjadi ini bukan hanya membuat rakyat kecil menderita tetapi juga para pengusaha dari UMKM sampai besar juga tidak merasa nyaman, mulai merugi, mengurangi karyawan dan pesimis. Bila kebijakan2 Neoliberal ini dilanjutkan akan membuat rusak ekonomi Indonesia dan akan menjatuhkan popularitas Presiden Jokowi. Memang pada waktu Presiden Jokowi ke daerah2 disambut dengan gembira oleh rakyat sampai2 banyak yang meminta selfi dsb. Tetapi begitu rakyat itu pulang kerumahnya akan menghadapi lagi kenyataan hidup yang pahit, akibat penghasilannya makin lama makin tidak cukup untuk hidup .

20 Oktober 2017

Oleh: Abdulrachim K – Analis

sumber: harianterbit.com

Shares