Sabtu , 16 Desember 2017

Myanmar tetap belum izinkan PBB kirim bantuan buat Rohingya

Janji pemerintah Myanmar membuka jalur bantuan bagi relawan kemanusiaan hendak membantu etnis minoritas muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine sepertinya cuma isapan jempol. Sebab, menurut laporan Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, anggota mereka tetap dipersulit ketika hendak memberi bantuan.

Kepala Komisi HAM PBB, Mark Lowcock, nampak tidak bisa menahan kekecewaannya terhadap pemerintah dan militer Myanmar. Sebab dari laporan diterima, etnis Rohingya saat ini memang benar-benar hidup dalam kesulitan dan sangat membutuhkan bantuan.

Wow!:  [Video] Eks Wartawan BBC: Dulu Indonesia Dijajah VOC Belanda, Sekarang VOC Tiongkok

“Akses yang diberikan kepada kami di bagian utara Rakhine sangat tidak bisa diterima,” kata Lowcock di Jenewa, Swiss, seperti dilansir dari laman AFP, Senin (9/10).

Lowcock menyatakan hingga saat ini mereka tidak diizinkan masuk ke Rakhine. Dia menyatakan karena sikap pemerintah Myanmar itu menyebabkan bantuan PBB selama ini banyak tidak terkirim. Bahkan, Lowcock sudah berulang kali meminta supaya rombongan bantuan dan relawan kemanusiaan PBB dan lainnya tidak dihambat. Namun, lanjut dia, pemerintah Myanmar mengabaikan permintaan itu.

Wow!:  Jajak Pendapat: 89% Warga Garut Mendukung Tabligh Akbar Ustadz Bachtiar Nasir

“Setengah juta orang Rohingya memilih mengungsi dan tidak melawan. Itu adalah bukti kalau terjadi krisis,” ujar Lowcock.

Myanmar, kata Lowcock, terus menjaga ketat akses keluar masuk ke Negara Bagian Rakhine. Hal itu terjadi sejak kelompok militan Tentara Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA) menyerang sejumlah pos polisi. Hal itu menyebabkan pemerintah Myanmar mengirim ribuan serdadu buat menumpas ARSA yang mereka anggap sebagai teroris. Dampaknya justru banyak perkampungan Rohingya dibakar, dan orang-orangnya dibantai tentara.

Myanmar mengklaim kalau korban jiwa dalam kekerasan di Negara Bagian Rakhine ‘cuma’ ratusan orang. Menurut mereka, korbannya bukan cuma orang Rohingya, tetapi juga warga Hindu dan Buddha. Namun, kelompok pemerhati HAM tidak yakin dengan laporan itu dan memperkirakan jumlah mereka yang tewas lebih tinggi. Menurut Organisasi Migrasi Dunia, kini ada sekitar 100 ribu orang Rohingya di perbatasan Myanmar menunggu kesempatan menyeberang ke Bangladesh melalui jalur darat maupun laut. Sebagian dari mereka berhasil, tetapi beberapa mesti meregang nyawa karena kapal ditumpangi terbalik. [ary]

Shares