Minggu , 17 Desember 2017

Merinding!! Refleksi 2410: UU Ormas, Fitnah Akhir Zaman dan Seruan Sebelum yang Akhir

Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi sekalian alam. Amma ba’du.

*Fitnah Tahun Ini*
Malam itu sunyi, malam itu gelap, dan malam itu menyimpan berjuta misteri. Banyak kisah tentang malam dalam al-Qur’an al-Karim. Termasuk bagaimana seorang muslim diajarkan adab ketika menghadapi malam, misalnya membaca doa, memperbanyak dzikir dan menutup semua pintu rumah. Malam adalah waktu istirahat dan memperbanyak dzikir.

Ya Allah, mengapa ketika menghadapi malam ada rasa gelisah dan khawatir. Khawatir menatap masa depan. Ada rasa yang tak menentu ketika menatap wajah istri dan anak yang sedang tertidur lelap. Mampukah kami memikul tanggung jawab ini. Padahal sebenarnya tak ada yang harus dikhawatirkan, semata hanya berlindung dan meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hari-hari ke depan, adalah hari yang penuh dengan misteri dan ketidakpastian. Mengapa? Karena kita menghadapi fitnah akhir zaman. Dimana fitnah itu bagaikan potongan malam yang gulita. Gelap tidak jelas terlihat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا.

“Bersegeralah beramal sebelum munculnya fitnah yang datang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap, seseorang dipagi harinya beriman dan disorenya telah menjadi kafir, atau sorenya masih beriman dan pagi harinya telah menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan gemerlap dunia.” (HR. Muslim)

Para pemegang panji Islam dan orang-orang yang shalih di negeri ini sedang diuji dengan berbagai macam ujian berat, mulai dari tata kelola negara yang amburadul, pemimpin yang zhalim lagi keras kepala, utang menggunung, pajak terus dinaikkan, cacat proyek reklamasi teluk Jakarta, proyek tanpa izin Meikarta, kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis kritis, pembubaran ormas, pembungkaman dakwah, keberpihakannya pada kapitalisme dan komunisme, dan lain sebagainya.

Adapun yang paling mutkahir adalah konspirasi jahat untuk membungkam dakwah, kelompok dakwah dan ajaran Islam melalui jalan politik dan perundangan. Tongkat pukul itu tiada lain adalah Perppu Ormas No. 2 Thn. 2017 yang kemudian sudah sah menjadi Undang-undang (UU). UU Ormas yang baru tersebut jelas madharat dilihat dari tiga sisi: ancaman terhadap kelompok dakwah (pembubaran), ancaman pada aktivitas dakwah politik (kriminalisasi), dan penistaan pada ajaran Islam (stigmatisasi buruk khilafah).

Wow!:  KH. Mustari: "Perppu Ormas berpotensi memecah ummat bahkan membuat Indonesia kacau balau"

Meski secara akal sehat Perppu itu layak untuk ditolak, tetapi tidak bagi mereka yang mengabdi pada kekuasan. Narasi radikalisme, intolerasi, mengancam Pancasila dan NKRI adalah retorika absurd. Dalil-dalil agama kadang jadi alat legitimasi. Mereka menjual agamanya dengan gemerlap dunia. Itulah alasan yang paling masuk akal bagi para pendukung Perppu Ormas menjadi UU Ormas, ketika logika agama dan hukum tidak ditemukan justifikasi yang memadai. Tak jarang, mareka yang mendukung Perppu Ormas (yang sufah sah menjadi UU) belum membaca isi dari Perppu tersebut. Sungguh sangat menyayat hati sekaligus memalukan. Dengan kalimat lain, UU Ormas yang baru ini akan menjadi fitnah terbesar di akhir tahun masehi ini. Sejarah akan mengabadikannya. Pena orang-orang yang terzhalimi juga telah mencatatnya.

Pada kondisi itu, ummat harus sabar. Wujud kesabaran itu adalah dengan bangkit dan melawan kezhaliman. Melawanlah dengan lisan dan pena kita. Selemah-lemahnya perlawanan adalah diam memberikan doa, bukan malah menjadi pengikut syahwat penguasa dan pengkhianat agama. Rasulullah bersabda,

سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْقَائِمِ وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْمَاشِي وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنْ السَّاعِي وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ.

“Akan terjadi berbagai fitnah, maka seorang yang duduk dalam perkara itu (tidak ikut) lebih baik dari orang yang berdiri, dan yang berdiri lebih baik dari yang berjalan menyongsongnya, dan yang berjalan masih lebih baik dari yang berlari padanya, barangsiapa yang larut padanya akan terjebak, maka barangsiapa yang dapat menghindar melarikan diri darinya hendaklah dia lakukan.” (HR. Bukhari)

*Memahami Hadits Fitnah*
“Al-Fitan” (اَلْفِتَنُ) adalah bentuk jamak dari kata “fitnah” (فِتْنَةٌ), maknanya adalah cobaan dan ujian. Kemudian banyak digunakan untuk makna ujian yang dibenci, lalu digunakan untuk segala hal yang dibenci atau berakhir dengannya seperti dosa, kekufuran, pembunuhan, pembakaran, dan yang lainnya dari segala hal yang dibenci. (Lihat Lisaan al‘Arab, XIII/317-321; an-Nihayah, III/410-411; Fath al-Bari, XIII/3)

Ketika memahami hadits riwayat Imam Muslim diatas, Imam an-Nawawi menjelaskan: “Maksud (hadits di atas), Rasulullah menganjurkan kita agar segera beramal shalih sebelum kita tidak mampu melakukannya lagi dan sebelum kita dilalaikan oleh fitnah yang banyak dan menumpuk satu sama lain, seperti kegelapan malam yang gelap gulita dan saling tindih menindih.” (Syarah Shahih Muslim, II/114-115). Bentuk amal shalih adalah berpegang teguh pada Islam, berusaha keras meninggikan kalimat Allah, istiqamah di jalan dakwah, dan tidak masuk dalam kubu orang-orang yang menjual agama dengan gemerlapnya dunia.

Wow!:  Pencabutan Subsidi Jadi Kebijakan Salah, INDEF: Itu Sebabkan Daya Beli Anjlok

Penggambaran fitnah laksana potongan malam yang amat pekat itu menunjukkan betapa berat dan berbahayanya fitnah itu. Juga berartifitnah tersebut tidak terlihat. Ketika itu manusia tidak tahu ke manakah mesti berjalan. Ia tidak tahu di manakah tempat keluar.

Syaikh al-Mubarakfuri berkata: “Sabda Rasulullah ‘…pada waktu sore ia telah kafir’, maknanya bisa menjadi kafir (keluar dari Islam) atau kufur nikmat (mengingkari kenikmatan) atau menyerupai orang kafir atau melakukan amalan orang-orang kafir.” Imam al-Hasan al-Bashri menafsirkan, “maksudnya: pada pagi hari ia mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan pada sore harinya ia menghalalkan hal tersebut.” (Tuhfah al-Ahwadzi, 6/364).

Menjual agama yang dimaksud di sini adalah menukar agama dengan kesenangan dan syahwat dunia seperti harta, kekuasaan, kedudukan atau bahkan dengan perempuan.

Ya rabbi, seakan hamba sedang berada di zaman itu hari ini. Saat begitu mudahnya orang-orang menghalalkan apa yang Allah haramkan dan sebaliknya; penguasa menzhalimi rakyatnya; rakyat melaknat penguasanya; hukum Allah dicampakkan; para ulama dan kelompok Islam dimusuhi; kekafiran dirangkul penuh kehangatan; dan khilafah sebagai ajaran Islam dinistakan. Hamba tak berdaya kecuali semata berharap Kekuatan dan Keperkasaan-Mu.

*Bukan Seruan Terakhir*
Seruan pada aksi 2410 (aksi Penolakan Perppu Ormas pada 24 Oktober 2017 di DPR RI) bukanlah seruan yang terakhir. Ini adalah seruan sebelum yang terakhir. Ya, seruan sebelum yang terakhir. Seruan yang terakhir kami adalah ketika imam kami menyeru manusia dari timur hingga barat untuk masuk dalam pangkuan Islam, atau seruan untuk tunduk pada kekuasaan Islam, atau imam kami menyeru tentaranya memasukan suatu negeri yang penguasanya keras kepala. Saat itu panji Islam ditinggikan, dan benderanya berkibar dengan gagah, menantang, sekaligus menentramkan. Itulah seruan terakhir kami. Biarlah mereka hari ini merayakan “kemenangan kecil” karena berhasil mengokohkan kediktatoran dengan mengesahkan Perppu menjadi UU. Kemenangan itu fana.

Menuju seruan yang terakhir, kami akan tetap berdiri dan bersuara melawan segala bentuk kezhaliman. Menjadi orang yang teguh di atas kebenaran di saat manusia tenggelam dalam syahwat dunia, jelas merupakan sebuah keutamaan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim). Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang asing itu? Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu, Rasulullah menjelaskan bahwa mereka itu adalah, “Orang-orang yang berbuat kebaikan tatkala orang-orang lain berbuat kerusakan.” (HR. Thabarani)

Wow!:  Luar Biasa!Ini Penjelasan H Munarman, SH Sekum DPP FPI Masalah Perppu Ormas Dari Berbagai Aspek

*Tegar Hadapi Fitnah*
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah munculnya fitnah besar yang bercampur di dalamnya kebenaran dan kebathilan. Hadits-hadits tentang fitnah banyak sekali. Nabi telah memberikan peringatan kepada umatnya dari berbagai fitnah, agar memegang Islam meski sangat berat, dan memerintahkan mereka untuk berlindung darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari segala fitnah, yang nampak darinya dan yang tersembunyi.” (HR.Muslim).

Saudaraku, pilihan hidup terbaik adalah terus berjuang. Menjadi kesatria di siang hari dan bersimpuh lemah menghadap Rabb semesta alam pada malam harinya. Rasulullah mengajarkan satu doa yang disunnahkan dibaca setelah membacatahiyyat akhir sebelum salam,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian serta keburukan fitnah al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Muslim).

Saudaraku, cukuplah kematian yang menghentikan langkah kita, yang mengakhiri lisan dan tulisan pena kita. Sebelum nafas terakhir terhembus, tak ada alasan bagi kita untuk tidak berbuat memperbaiki kerusakan ini. Masa depan kita sungguh sangat pasti. Masa depan kita di dunia fana ini adalah kematian. Masa depan umat adalah kejayaan. Masa depan Islam adalah kemenangan. Masa depan hakiki kita adalah negeri akhirat. Jika demikian, untuk apa kita masih ragukan masa depan kita. Untuk kita masih ragu untuk memilih jalan hidup kita, apapun risikonya. Toh semua akan mati. Tegarlah menghadapi fitnah. Menyongsong seruan terakhir yang kita idamkan. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad. Wallahu a’lam. []

_Bumi Allah, 4 Shafar 1439/24 Oktober 2017, di suasana syahdu hujan mengguyur dan menghidupkan atas izin Allah_

*REFLEKSI 2410: UU ORMAS, FITNAH AKHIR ZAMAN, DAN SERUAN SEBELUM YANG TERAKHIR*

_*Oleh: Hafid Karmi Al-Julaniy*_
_Ra’is Raudhah al-Tsaqafiyyah Wilayah Jawa Barat_

Shares