Minggu , 17 Desember 2017

Intoleransi Media dan Kemunafikan Cebong Melihat Fakta Mengejutkan Reuni Mujahid 212.

Alhamdulillah, gelegar dan semarak aksi Maulid agung dan Reuni Akbar 212 telah usai diselenggarakan. Angkanya fantastis tentunya. Acara yang digelar dari pukul 3 dinihari dan selesai pukul 11 pagi itu mendapatkan respon dan perhatian luar biasa. Sejumlah ulama, Habaib dan aktivis islam tampil silih berganti. Penataan sound sistem di setiap sudut-sudut wilayah, serta jutaan masyarakat yang silih berganti mendatangi acara tersebut.

Kemeriahan dan tindakan positif itu ternyata tidak disukai kaum cebong dan Media intoleran. Sebagaimana kita ketahui, Media Metro TV melalui Tajuk Medianya, tanggal 1 Desember 2017 telah membuat provokasi bernada acara”Intoleransi”. Kemenag yang menagugerahi Metro TV sebagai TV bercitra islam itu ternyata adalah piala kemunafikan yang nyata. Yang Metro TV memancing nada provokasi, tanpa data dan akurasi yang jelas, dan memalukan sudut jurnalistik.

Sementara itu, kaum cebong bertugas untuk mencegah dan menghasut sebuah simbol, 212 adalah simbol intoleransi, pemikiran yang sempit dan sebagainya. Mereka pun menghardik pernyataan 7,5 juta peserta yang hadir dengan pernyataan Dr. Muradi (Akademisi FISIP UNPAD) dengan menyatakan yang hadir itu hanya 35.000 sampai dengan 40.000 orang saja. Whats? Pak Muradi, terlihat sangat fatal dalam memberikan analisis itu. Kenapa? Unpad menerima kurang lebih 8.000 mahasiswa setiap tahunnya. Dan mahasiswa baru itu dikumpulkan di Gor Jati kampus unpad. Alih-alih membandingkan massa 212 itu, jika dikalikan 8.000 mahasiswa x 5 saja, maka hanya membatasi 2,5 sd 3 kali lapangan sepakbola Gor Jati Unpad. Anda bisa bayangkan, Luasnya Monas disamakan dengan 2,5 kali Lapangan sepakbola Gor Jati Unpad? Dan kaum dangkal akal sekaligus munafik dengan semangat mengangkat tulisan Pak Muradi tersebut.

Wow!:  6 Fakta Fredrich dan Otto Hasibuan Mundur Dampingi Kasus Korupsi e-KTP Setya Novanto

Kaum cebong tak sekedar menghabisi disitunya, mereka lagi-lagi melibatkan ulama dan tokoh publik yang sebelumnya juga berusaha untuk membuat citra negatif kegiatan 212 itu, dengan berbagai dalih dan bahasa. Mereka menyebarkan pernyataan Said Aqil Siradj, bahwa lebih baik dana reuni akbar itu disumbangkan ke kaum dhuafa. Lantas, bagaimana dengan acara dan gelaran pembacaan kitab kuning yang digelar di Gelora Delta sidoarjo beberapa waktu silam? Kenapa, tidak dibilang saja dananya diberikan ke sejumlah kaum dhuafa?

Wow!:  Gak Nyangka, Begini Jawaban Mengejutkan Bocah Palestina Saat Ditanya Yerusalem Ibu Kota Israel

Pada akhirnya, kekalahan telak di dunia nyata dan di dunia maya, telah membuat sebagian bahkan kaum munafik dangkal akal dan pikirannya. Mereka gemetar, saat ternyata jumlah yang hadir itu benar-benar diluar dugaan mereka.

Inilah ummat islam, ummat yang mengutamakan Al-Quran dan Sunnah. Berkumpulnya jutaan ummat islam itu, tak lain karena dorongan aqidah. Lagi-lagi, mereka tak pernah mengerti apa itu dorongan aqidah. Sebab kaum munafik, hanya mengerti bahasa uang. Sehingga segala sesuatu termasuk berkumpulnya suatu massa identik dengan nasi bungkus. Padahal, mereka yang datang ke sana, justru dengan biaya sendiri, kemauan sendiri, dan tahu jelas apa tujuannya.

Wow!:  Begini Kronologi Penangkapan dan Pembubaran Aksi Malam Tadi

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Serangan kaum munafik diberbagai sosial media selama beberapa jam terakhir hingga tulisan ini pun dibuat, masih terus berlanjut. Pertanyaannya, mereka bekerja berdasarkan uang dan syahwat, maka itu tidak lama! Sebab ini berurusan dengan perut dan dibawah perut mereka. Sementara, cyber muslim itu akan terus konsisten, meskipun tiada sokongan dana yang mengalir kepada mereka. Lagi-lagi, ini semua atas nama dorongan keimanan.

Intoleransi Media dan Kemunafikan Cebong Melihat Fakta Mengejutkan Reuni Mujahid 212.
Oleh: Zain Rahman
(Direktur Eksekutif Komunitas Politik Pembebasan)
Mujahid 212
Jakarta, 2 Desember 2017.
fb: IndonesiaMilikAllah

Shares