Senin , 20 November 2017

Hmmm, Beginilah Jeroan ‘Surga’ di Lantai 7 Alexis Hotel, Pantas MUI Mendukung Penutupan

Alexis Hotel yang terletak di Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara belakangan ini menjadi buah bibir. Terlebih, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang kini dipimpin Anies Baswedan menolak permohonan perpanjangan izin usaha bagi Alexis Hotel dan griya pijat di dalamnya.

Dugaan yang mencuat, penghentian izin usaha bagi Alexis Hotel karena tempat hiburan malam milik Alexis Group itu menjadi sarang prostitusi. Konon, pekerja seks komersial (PSK) di Alexis Hotel pun diimpor dari mancanegara.

Lantai tujuh di Alexis Hotel pun sering disebut-sebut oleh penggemar pijat plus-plus sebagai surga dunia. Lantas, seperti apakah jeroan Alexis Hotel?

Manajemen Alexis Hotel pun membuka pintu bagi awak media, Selasa (31/10) siang. Media yang hadir dibawa menyusuri lantai tujuh Alexis Hotel yang konon seperti surga dunia itu.

Lantai pertama Alexis Hotel adalah lobi. Selanjutnya, awak media diarahkan menuju lantai dua.

Begitu keluar dari lift, ada kantor di sebelah kanan. Sedangkan di sebelah kiri terdapat lounge dan restoran.

Di tengah lounge itu pula pengunjung langsung dihadapkan dengan bar. Meski bar sudah tidak beroperasi lagi, tapi di kulkas dan meja bartender masih terdapat sejumlah minuman beralkohol.

Lounge itu dipartisi menjadi empat bagian. Pertama adalah bar dan lounge utama untuk pengunjung umum. Lalu, di belakang bar, terdapat dua ruangan VIP.

Suasana lounge tampak remang dan elegan. Sebab, lantainya disisipi dengan kolam-kolam kecil. Jika tak hati-hati, pengunjung bisa tercebur ke kolam-kolam itu.

Tapi itu baru awal. Selanjutnya, awak media diarahkan ke lantai tujuh Alexis Hotel yang masyhur. Konon, di lantai inilah praktik prostitusi sering dilakukan.

Begitu keluar dari lift di lantai tujuh, pengunjung langsung dihadapkan dengan tulisan Bathhouse SPA & Lounge. Jika keluar dan belok kiri, pandangan mata langsung dihadapkan dengan meja kasir.

“Seperti inilah gambaran lantai tujuh Hotel Alexis. Sama seperti hotel-hotel lainnya. Tidak ada praktik prostitusi di sini,” kata Legal and Corporate Affair Alexis Group Lina Novita saat mendampingi para awak media.

Memang, dari pantauan media tidak ada aktivitas yang terlihat di lantai tujuh Alexis Hotel. Hanya ada beberapa petugas jaga.

Selanjutnya, awak media diajak melihat beranda terbuka di lantai tujuh. Di selasarnya terdapat gazebo-gazebo di sisi kanan dan kirinya.

Sedangkan di tengahnya terdapat kolam ikan yang melintang. “Di gazebo-gazebo ini biasanya tempat pengunjung merebahkan diri,” tutur Lina.

Setelah melewati deretan gazebo, pengunjung lantai tujuh Alexis Hotel akan melihat tiga kolam dengan warna berbeda. Oranye, merah muda, dan biru.

Menurut Lina, tiga kolam itu punya air dengan spesifikasi berbeda. Yakni kolam air panas, air dingin dan air terapi.

Tepat di sebelah kolam terdapat ruang sauna. Di sebelah kanan ruang sauna juga ada lorong kecil. Pengunjung yang sudah berendam dan menghangatkan diri di ruang sauna, biasanya diajak ke lorong itu.

Lina mengatakan, di dalam lorong tersebut merupakan ruang massage dan spa. Pengunjung yang hendak menikmati massage harus melewati lorong dengan pencahayaan temaram dan menuruni tangga.

Keluar dari tangga, terdapat bilik-bilik kamar. Setiap kamar memiliki fasilitas berbeda. Ada yang memiliki bathtub, ada juga yang tidak.

Namun, Lina menjamin tak ada kegiatan ilegal di Alexis Hotel, termasuk soal prostitusi. Bahkan, Lina mengklaim Alexis Hotel menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) DKI dalam angka signifikan.

“Kalau tidak salah Rp 30 miliar per tahun. Kami juga mempekerjakan 600 pegawai tetap, sementara pegawai lepas 400 orang,” kata Lina.(tan/jpnn)

Baca Juga  'Perppu Ormas Melawan Akal Sehat'

Legenda Kenikmatan Surga Lantai 7 Hotel Alexis

Hotel Alexis sudah melegenda. Namanya selalu dikaitkan dengan kegiatan prostistusi kelas kakap. Semua tawaran surga dunia itu bisa dinikmati pemburu kenikmatan syahwat di lantai tujuh hotel tersebut.

Berbeda dengan hotel lain di wilayah Ibu Kota, para pengunjung dan tamu yang pernah datang atau menginap di tempat ini mengatakan bahwa hotel Alexis tak baik untuk dijadikan tempat relaksasi bersama keluarga, khususnya jika membawa anak-anak.

Bukan hanya karena adanya “mitos” prostitusi di lantai tujuh bangunan ini, namun hotel Alexis memang ditujukan bagi para pria berkantong tebal yang ingin mencari hiburan malam. Meski harganya sama sekali tak murah, namun mereka rela merogoh kocek dalam-dalam lantaran standar hiburannya diakui merupakan kelas satu.

Terdapat sebuah bar tempat para pria melampiaskan dahaga sekaligus cuci mata bernama 4Play Club. Di tempat ini pula kerap diadakan pertunjukkan musik elektronik yang umumnya dipimpin langsung oleh DJ wanita. Selain itu, ada juga tempat karaoke, panti pijat hingga sauna dengan embel-embel “plus-plus” yang siap memanjakan para pria hidung belang yang penat dengan urusan pekerjaan.

Kabar ini mulai menggemparkan publik sekitar setahun silam. Bagi para tamu yang berkunjung kesana, langsung dihampiri oleh petugas yang menanyakan fasilitas apa yang mereka inginkan di hotel ini. Jika tamu hanya menginginkan hiburan “umum” mereka hanya akan diarahkan ke lantai satu. Sedangkan, jika hiburan tingkat dewa atau surga dunia yang mereka cari, para petugas akan langsung mengantar mereka ke sebuah elevator yang telah disediakan yang akan membawa mereka langsung ke tempat impian mereka.

Tak banyak informasi yang menunjukkan bahwa praktik jual beli selangkangan marak terjadi di lantai tujuh hotel ini. Hanya saja, lewat hasil penelusuran singkat kami di beberapa media dan forum online dapat disimpulkan bahwa bisnis prostitusi kelas konglomerat di hotel ini adalah benar adanya.

Jika tamu yang baru saja masuk ke pelataran parkir mengatakan kepada petugas bahwa mereka ingin mencari hiburan khusus di lantai tujuh, mereka akan diantar lewat elevator khusus yang langsung terhubung ke lantai tersebut. Begitu sampai di lantai surgawi yang dimau, pengunjung atau tamu akan diminta untuk menitipkan ponsel, kamera, atau segala alat dan perangkat yang dianggap dapat merekam kegiatan di sana.

Di lantai tersebut, tamu akan langsung masuk ke sebuah ruangan yang menghampar luas di mana banyak wanita yang berasal dari berbagai negara, duduk manis dan menggoda di beberapa sofa yang disediakan. Beberapa yang paling terkenal adalah yang berasal dari Cina, Thailand, dan Uzbekistan. Keterbatasan bahasa membuat mereka lebih memilih untuk duduk secara berkelompok dengan rekan satu negara mereka.

Tarifnya sendiri bermacam-macam, namun rata-rata di atas satu juta per malam. PSK paling mahal adalah yang dari Uzbekistan. Begitu selesai memilih wanita yang diinginkan, tamu akan diminta untuk menyelesaikan transaksi dan kemudian dipersilakan untuk pergi ke fasilitas utama.

Mereka biasanya memilih kolam air hangat dan panti pijat sembari berbasa-basi dan sedikit mengenal si wanita yang menemani mereka. Jika sudah puas dengan “foreplay,” barulah mereka mengajak wanita tersebut untuk masuk ke kamar hotel yang telah disediakan. Cerita putus di sini, karena setelah itu, tak ada yang tahu aktivitas apa saja yang dilakukan para tamu di hotel itu.  teropongsenayan.com

Kisah Pemburu Birahi di Kawasan Mangga Besar Jakarta

Gubernur Jakarta Anies Baswedan akhirnya tegas menutup Hotel Alexis karena dianggap sebagai biangnya praktek prostitusi para pemburu birahi di kawasan Mangga Besar Jakarta Pusat. Sudah banyak kabar yang beredar bahwa di lantai 7 hotel tersebut selalu menjadi ajang pelacuran pria hidung belang. Hanya saja praktek tersebut tidak dilakukan secara kentara melainkan terselubung.

Baca Juga  Wapres JK: Apa Itu Alexis?

Dengan ditutupnya Hotel Alexis itu tentunya memberikan sinyalemen kepada tempat wisata birahi lainnya terutama yang berada di Mangga Besar semakin waspada. Sebab bisa jadi mereka akan menjadi sasaran berikutnnya. Sebenarnya seperti apa praktek prostitusi di tempat lain ? Berikut penelusurannya.

Gadis-gadis muda menggoda genit pria hidung belang yang kebetulan mampir ke Htl Tvl di Mangga Besar. Lokasinya mudah dicari karena berada persis di Jl Lokasari. Disitu ada lampu merah, belok kanan, dan sekitar 50 meter di sebelah kiri, langsung terlihat hotel berlantai empat yang di halamannya selalu ramai dipadati mobil-mobil parkir dari berbagai merek.

Di tempat ini, tersedia paket gadis-gadis muda untuk kencan short time. Mereka ditempatkan dalam ruang kaca besar seperti akuarium.Gadis-gadis belia ini layaknya seperti ikan hias yang siap untuk dipilih oleh tamu yang datang mengunjunginya.

Sebagai salah satu tempat favorit para pemburu birahi, hotel ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memanjakan para tamunya seperti kamar, ruang karaoke, diskotek, SPA, pijat, dan ‘lapangan tembak’. Tidak heran bila tempat ini saban malam selalu ramai dikunjungi tamu-tamu yang ingin berwisata birahi.

Setiap tamu yang datang pasti tidak akan melewatkan lantai dua di hotel ini. Karena selain terdapat restoran untuk rendevouz dengan gadis-gadis cantik yang juga merupakan tempat display ladies escort karaoke, juga di sebelahnya ada akuarium besar berisi gadis-gadis belia untuk kencam short time. Setidaknya ada 30 gadis belia yang siap sedia duduk sambil berhias, ngerumpi atau melamun menunggu ajakan kencan dari para tamu. Rata-rata cewek yang di akuarium masih muda-muda berusia antara 16-22 tahun.

Sedangkan untuk LC karaoke yang juga bisa untuk berkencan, tarifnya sangat bervariasi dan tidak memiliki patokan jelas. “Harganya berkisar Rp1 juta, Rp1,5 juta, dan ada yang Rp2 juta. Tergantung nego dengan anaknya. Dia yang bikin harga sendiri,” ujar Lisa, seorang ‘mami’ yang ada di restoran itu.

Menurut mami, cewel-cewel LC karoeke yang merasa memiliki wajah cantik dan menjadi primadona memasang bandrol cukup tinggi, sementara yang biasa-biasa saja rata-rata tarifnya Rp1 juta. Kalau gadis-gadis belia di dalam akuarium, patokan harganya jelas.

Dengan uang tidak lebih dari Rp300.000, termasuk kamar, kondom, dan soft drink, tamu sudah dapat menikmati ‘wisata bahari’ dengan memilih teman kencan sesuai selera masing-masing. Mereka dibagi dalam dua shitf, shift pertama mulai pukul 16.00 sampai pukul 20.00, sedangkan shift kedua dari pukul 20.00 sampai pukul 02.00 dini hari. Itu, Mas, yang rambutnya panjang No 27, baru datang. Cepet lho dipilih, ntar keburu diambil orang,” kata Mami Else, yang bertugas di ruang akuarium

Tak lama kemudian mami itu memanggil no 27 dan mengenalkannya kepada saya. “Ini Erni, Mas. Baru seminggu di Jakarta dari Indramayu,” tutur mami lagi.

“Cuma Rp210.000 ribu, Mas. Udah sama kamar dan dapet kondom, gak mahal khan,” kata mami itu lagi berpromosi.

Erni yang berkulit putih dengan tinggi badan 165 cm ini melihat dengan kerling mata genit sambil terus mengapit tamu yang datang. Kamar untuk eksekusi bisa dipilih. Apakah di dalam hotel atau di dalam kamar khusus di akuarium itu yang juga merupakan tempat pijat plus-plus. Tentunya untuk kamar hotel harganya berbeda, setiap tamu dibebani harga kamar hotel Rp150.000/jam.

Baca Juga  Hmmm, Beginilah Jeroan 'Surga' di Lantai 7 Alexis Hotel, Pantas MUI Dukung Penutupan

Kamar khusus yang di dalam akuarium itu ada 10 ruangan di dalam lorong kecil dengan ukuran 3 X 5 meter yang dilengkapi dengan shower, meja rias, dan dua minuman aqua botolan. Pengalaman wisata birahi di Hotel Tvl ini memang memiliki sensasi sendiri berbeda dengan tempat-tempat wisata birahi lainnya di Kota, Mangga Besar, dan Hayam Wuruk.

Yang menarik untuk dapat kencan singkat dengan gadis di temmpat ini, tamu tidak bakal membeli kucing dalam karung. Soalnya setiap cewek yang diajak kencang bisa dilihat dengan jelas tidak seperti tempat lain dengan lampu yang remang-remang. teropongsenayan
Wow Ini Dia Fasilitas Hotel Alexis Jakarta

Hotel Alexis terletak di Jl. R.E. Martadinata No.1, Jakarta Utara. Dimuat dalam laman alexisjakarta.com, hotel yang berada di area Ancol itu diposisikan sebagai one-stop hotel untuk hiburan dewasa.

Pengelola hotel juga menyebut Alexis sebagai taman impian bagi laki-laki dewasa. Hotel Alexis menawarkan berbagai tempat hiburan seperti 4Play Clun & Bar Longue, Xis Karaoke, dan BathHouse Gentlemen Spa.

Isu prostitusi di Hotel Alexis sudah seperti menjadi rahasia umum. Beberapa kali jajaran pemerintah propinsi Jakarta belum bisa menutup bisnis prostitusi terselubung itu karena belum ada bukti.

Di forum Kaskus, ada thread khusus yang membahas tentang pengalaman orang-orang yang pernah mengunjungi Hotel Alexis. Salah seorang netizen berakun pr1mus_coreone mengaku yang sering berkunjung ke 4Play Bar berbagi pengalamannya.

Dalam ceritanya di forum Kaskus yang diunggah pada tahun 2009 itu ia menyatakan bar tersebut menyediakan penari stripper, seksi setengah telanjang. teropongsenayan.com

 

Dukung Penutupan Alexis, MUI Berharap Semua Bisnis Prostitusi Ditutup

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung langkah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mengeluarkan surat keputusan tidak memperpanjang izin usaha Hotel Alexis dan Griya Pijat Alexis di Jakarta Utara.

Langkah Anies tersebut dinilai sebagai bukti komitmennya untuk menjadikan kota Jakarta sebagai kota yang bebas dari praktik-praktik prostitusi dan praktik kemungkaran lainnya.

“MUI berharap bahwa keputusan tersebut sudah sesuai dengan prosedur hukum dan bukan hanya ‘gertak sambal’, tetapi benar-benar dituangkan dalam Surat Keputusan Pemprov DKI Jakarta secara resmi, sehingga memiliki kekuatan hukum dan dapat dieksekusi,” ujar Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi dalam pernyataannya diterima hidayatullah.com, Selasa (31/10/2017).

 

Lebih dari itu, MUI meminta agar faktor pengawasan pasca penutupan juga harus dijaga. Jangan sampai aparat keamanan tidak berdaya melakukan tindakan eksekusi dan penegakan hukumnya.

“MUI juga berharap bahwa kebijakan tersebut tidak hanya diberlakukan untuk hotel Alexis saja, tetapi semua hotel dan tempat hiburan lainnya yang menawarkan bisnis prostitusi dan perdagangan orang juga harus ditutup,” tambahnya.

MUI, kata Zainut, sangat prihatin dengan semakin maraknya praktik kehidupan yang melanggar nilai-nilai agama, etika, estetika dan susila. Berbagai bentuk kejahatan dan pelanggaran susila seringkali terjadi di sekitar kita. Misalnya, maraknya perilaku seks bebas, hubungan sesama jenis, pornografi, pornoaksi, penyalahgunaan narkoba, perdagangan orang, prostitusi, dan lain sebagainya.

 

“Untuk hal tersebut, MUI mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk kembali kepada jati diri bangsa yaitu Pancasila, yakni sebagai dasar etika berbangsa dan bernegara, pedoman dalam berpikir, bersikap dan bertingkah laku yang merupakan cerminan dari nilai-nilai agama dan budaya yang sudah mengakar dan terpatri dalam kehidupan masyarakat Indonesia,” pungkasnya.* (hidayatullah)

Shares