Jumat , 15 Desember 2017

Doh, Pertumbuhan Kaum H0m0s*ksua1 (g*y) di Jakarta Kian Mengkhawatirkan

Pertumbuhan kaum homoseksual (gay) di Jakarta kian mengkhawatirkan. Hal itu dibuktikan dalam kurun waktu kurang dari setahun ditemukan ada dua tempat yang menjadi pusat berkumpulnya kelompok berperilaku menyimpang tersebut. Pertama yakni di Kelapa Gading, Jakarta Utara; lalu kedua di Harmoni, Jakarta Pusat.

Pengamat sosial Rissalwan Habdy Lubis mengatakan, publik Indonesia kurang tepat dalam menyikapi permasalahan tersebut. Sebab, kata dia, banyak reaksi dari masyarakat yang justru mencomooh bila melihat perilaku komunitas gay. Ia mengungkapkan, jika hal tersebut dilakukan, para penyuka sesama jenis akan semakin tak mempunyai kepercayaan diri lebih untuk hidup di tempat normal.

Wow!:  Wagub: Tugas Kita adalah Hentikan Reklamasi

“Jadi semakin ditekan, dia akan membuat kelompok itu semakin kuat. Nah, itu kesalahan kita. Publik Indonesia adalah memusuhi kaum itu, bukan memperbaikinya. Jadi kalau mereka itu kita musuhi, kita kasih stigma negatif, dan mereka akan semakin memperkuat kelompoknya,” kata Rissalwan kepada Okezone, Selasa (10/10/2017).

Wow!:  Imbas WO Salah Satu "Ahoker" pada Pidato Anies & , Netizen Ramai-Ramai #UninstallTraveloka, Diskon harga tak sebanding dengan kehormatan

Ia menerangkan, tipe gay ada dua. Pertama, ada menyatakan terbuka; kedua, ada yang menutup-nutupi. Terkait kasus di tempat fitness Kelapa Gading, itu komunitas gay yang tak mencolok. Sebab, kata dia, badan mereka berbadan kekar sehingga tak banyak orang yang mengira bila mereka termasuk kelompok tersebut.

“Jadi kalau yang tipenya memang tidak kelihatan memang susah. Tapi kalau yang kelihatan ini jangan dikasih label atau dijelek-jelekin,” imbuhnya.

Wow!:  Pemerintah Gagal Capai Target Pertumbuhan Ekonomi

Rissalwan menerangkan, penting untuk memberikan pemahaman lebih kepada mereka yang masih duduk di bangku sekolah agar tidak melakukan perilaku menyimpang tersebut. Setidaknya, para pelajar harus sudah mengetahui kalau itu merupakan tindakan dilarang hukum.

“Pendidikan formal yang lebih eksplisit melalui kurikulum tentang antisipasi perilaku menyimpang dari nilai-nilai dan norma yang berlaku,” tandasnya. (okezone, 10/10/2017)

Shares