Senin , 20 November 2017

Di Mana Bisa Kita Temukan Pemuda Berkelas Mush’ab Bin Umair Di Zaman Ini? (1)

Dari hasil dakwah Mush’ab bin Umar, Madinah telah “Islam” sebelum Rasulullah datang

SUATU ketika pemuda Quraisy Arab memperhatikan gerak-gerik Rasulullah Muhammad secara diam-diam. Kekagumannya terhadap Islam dan Muhammad membawanya mengucapkan dua kalimah syahadat tanpa diketahui orangtuanya yang dikenal tokoh penyembah berhala.
Takdir Allah, suatu hari Usman Thalhah melihatnya sedang mengerjakan shalat, sebagaimana shalatnya Muhammad dan sahabat-sahabat Nabi lainnya. Kabar ini membuat ibunya marah besar dan terpaksa harus memenjarakkanya karena dinilai telah melanggar agama para leluhur mereka.
Pemuda itu adalah Mush’ab bin Umar. Lahir lahir di Makkah dari ayahnya Umair bin Hisyam bin Abdi Manaf, keluarga bangsawan utama dan konglomerat Quraisy. Ibunya Khanas binti Malik bin al-Madhrib, wanita kaya-raya di Kota Makkah. Tak ada kafilah yang datang ke Makkah yang tidak membawa dagangan ke rumahnya. Tidak ada pula kafilah yang pergi ke Syam (sekarang Suriah) yang tidak membawa dagangan padanya.
Semua fasilitas Mush’ab dicabut semenjak ia memilih bergabung dengan Islam. Ia bahkan berkali-kali menerima hukuman kurungan dan penjara dari ibunya sendiri agar rela keluar dari agama Islam.
Mush’ab dikenal sebagai pemuda tampan dan wangi. Tubuhnya tegap, kulitnya lembut. Senyum manis selalu menghias bibirnya menambah banyak gadis-gadis yang terpaut hati.
Ibnu Sa’ad dalam Kita Thabaqat mengataka, ibu Mush’ab adalah wanita paling kaya dan paling mewah di zaman itu. Pakaiannya paling indah dan mewangiannya melebihi penduduk Makkah di zaman itu. Rasulullah pernah bersabda, “Aku tidak melihat Makkah sahabat paling baik, pakaian paling indah dan kehidupan paling mewah, lebih daripada Mush’ab bin Umair.”
Mush’ab bin Umair bukan sembarang lelaki. Tak ada wanita Qurasy tak tak mengenal namanya. Di masa jahiliyyah, ia dikenal sebagai pemuda dambaan kaum wanita. Bila menghadiri sebuah perkumpulan ia segera menjadi magnet pemikat semua orang terutama kaum wanita. Gemerlap pakaiannya dan keluwesannya bergaul sungguh mempesona. Namun sesudah memeluk Islam, ia berubah sama sekali. Ia kini seorang pemuda zuhud dan jauh dari hiruk-pikuk dunia.
Khalid Muhammad dalam buku “Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah“ menggambarkan Mush’ab sebagai berikut:
“Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah shollallahu ‘alaih wa sallam. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang bertambal–tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka – pakaiannya sebelum masuk Islam – tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi.”
Namun Rasulullah memujinya dengan mengatakan, “Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orangtuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Usai Bai’at Al ‘Aqabah, Rasulullah menugasinya pergi ke Madinah untuk berdakwah. Saat itu, di Madinah hanya ada 12 orang yang memeluk Islam, sisanya masih pemuja patung dan penyembah berhala. Namun belum genap setahun, pemeluk Islam di Madinah telah berkembang menjadi 70 orang. Bahkan dalam kurung waktu itu, Mush’ab berhasil mengislamkan beberapa tokoh Anshar, seper ti Sa’ad bin Mu’adz (pemimpin Suku Aus), Sa’ad bin Ubada (pemimpin suku Khazraj) dan Usaid bin Khudhair (putra pemuka suku Aus sebelum Sa’ad bin Mu’adz).
Sejarah mencatat, Mush’ab adalah duta dai pertama Islam di Kota Madinah (dulu bernama Yastrib) untuk berdakwah di kaum Anshar sebelum Nabi Muhammad Hijrah ke kota itu. Hasil dakwahnya terlihat nyata, bahkan ketika Rasulullah memutuskan berhijrah ke Madinah, kota itu telah menjadi “Islam” dan siap menyambut kedatangan Rasulullah.
“Di setiap kampung-kampung di kota Madinah pasti ada penduduknya yang telah memeluk agama Islam walaupun hanya satu orang sehingga dapat dikatakan, bahwa tidak ada satu kampungpun di Madinah yang tida ada ruh Islamnya”, (KH. Moenawar Chalil dalam Kelengkapan Tarikh, edisi Istimewa Jilid 2).*/AU Shalahuddin, bersambung… “Pengibar Panji Islam yang Namanya Diabadikan Al-Quran..”

Source: http://ift.tt/1qbqIAG

Baca Juga  Minta Diblokir, Pemuda Muhammadiyah Adukan Laman Seword.com ke Kemenkominfo
Shares