Senin , 20 November 2017

Deradikalisasi Sebagai Upaya Deislamisasi Generasi

التعلّم فى الصّغر كالنقش على الحجر””

“Belajar di waktu kecil itu bagaikan mengukir di atas batu”. Pepatah dari negeri Arab tersebut cukup untuk menjelaskan betapa pentingnya belajar sejak dini, karena pada masa itulah anak-anak merekam semua yang mereka lihat dan dengar, dan informasi yang mereka dapat tidak hanya informasi yang bersliweran, namun informasi yang melekat layaknya ukiran di atas batu.

Upaya Deradikalisasi

Anak-anak kita saat ini disajikan dengan berbagai macam hal yang penuh dengan maksiat, kasus munculnya sebuah akun twitter yang merupakan komunitas bocah homo sontak menjadi perhatian yang sangat bagi para orang tua, namun agaknya hal ini tidak membuat pemerintah resah sehingga harus membuat langkah preventif. Di tengah ramainya kasus LGBT dini ini, pemerintah justru lebih fokus terhadap munculnya buku-buku untuk Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang dianggap memuat unsur-unsur Radikalisme. Pemerintah pun segera tanggap, seperti yang dilansir oleh metrotvnews.com (22/01/16) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) segera mengeluarkan larangan buku yang beredar tersebut. Senada dengan upaya tersebut, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berencana memperbaiki pencitraan Nabi Muhammad SAW di dunia pendidikan Islam. Hal ini karena Rasulullah cenderung ditonjolkan sebagai pribadi yang gemar perang daripada sebagai individu toleran dan penyebar kasih sayang. Republika.co.id (11/01/16)

Deradikalisasi = Deislamisasi

Alih-alih mencegah bibit terorisme berkembang, pemerintah justru mencoba merubah profil nabi Muhammad SAW yang dianggap dikenal sebagai pribadi yang suka perang, materi pendidikan saat ini dianggap kurang menonjolkan Nabi Muhammad SAW sebagai individu toleran dan penyebar kasih sayang.

Baca Juga  Alumni BEM Lintas Generasi Kecam Tindakan Represif Aparat Kepolisian

Rasulullah SAW adalah teladan bagi umat muslim, Alquran telah menjelaskan mengenai hal itu dalam surat Al-Ahzab ayat 21 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Mengatakan bahwa saat ini Rasulullah ditonjolkan sebagai pribadi yang gemar perang, dan kurang ditonjolkan sebagai individu yang toleran sama saja dengan mengatakan bahwa pribadi Rasulullah SAW tidaklah sempurna.

Padahal Allah SWT memuji budi pekerti Rasulullah dalam surat Al Qalam ayat 4“Sesungguhnya engkau memiliki budi pekerti yang agung”. Sehingga perkataan, perbuatan, ketetapan bahkan diamnya Rasulullah SAW dijadikan landasan hukum yang kedua bagi umat Islam setelah Alquran.

Karenanya menjadikan Rasulullah SAW sebagai contoh adalah sebuah kewajiban bagi kaum muslim, tidak hanya melihat aspek kepribadian beliau saja yang diikuti, namun seluruh aspek kehidupan beliau haruslah kita teladani. Dari sini jelas bahwa upaya deradikalisasi adalah upaya deislamisasi, terlebih hal itu berkaitan dengan materi pendidikan yang ada di negeri ini.

Bahaya Deradikalisasi Bagi Generasi

Seorang anak membutuhkan contoh untuk diikuti, jika saat ini role model mereka dapati dari media cetak dan elektronik yang isinya mengajarkan toleransi yang menggadaikan Aqidah, ini sangatlah berbahaya, disisi lain generasi saat ini juga disodorkan tampilan gaya LGBT, yang bahkan sudah merambah ke dunia anak.

Baca Juga  Ketika Manusia Berlagak Sebagai Tuhan

Masa anak-anak adalah masa yang sangat rentan, disinilah pondasi dasar pemikiran dan perilaku dibentuk. Jika sejak kecil ia dikenalkan pada penciptanya, diajarkan untuk taat kepadanNya, berpegang teguh pada setiap ajaran agamaNya, maka anak telah memiliki pondasi yang kuat, yang kedepannya tidak akan mudah goyah.

Namun jika anak sedari kecil tidak pernah mengenal Tuhan yang menciptakannya, bebas melakukan apa saja, tidak peduli dengan orang lain, ditambah dengan keadaan lingkungan yang memunculkan perilaku kaum Luth, dan tidak menjadikan Rasulullah SAW sebagai role model seutuhnya, tidak bisa dibayangkan seperti apa generasi bangsa ini lima atau sepuluh tahun kedepan.

Generasi Islam Harus Bangkit!

Upaya deradikalisasi adalah lagu lama yang selalu muncul pasca drama teroris baru-baru ini di daerah Thamrin Jakarta Pusat. Deradikalisasi merupakan kebijakan luar negeri Barat dalam perang melawan terorisme. Tak tanggung-tanggung kali ini pemerintah bahkan berencana mengganti materi sejarah nabi Muhammad SAW dengan alasan meningkatnya radikalisasi yang menjangkiti sebagian umat Islam di Indonesia.

Melalui sistem pendidikan, nampaknya pemerintah sadar bahwa upaya deradikalisasi (baca: deislamisasi) akan lebih efektif jika diawali dari generasi awal bahkan sejak PAUD. Namun harus dipahami pula bahwa kewaspadaan pemerintah tentang radikalisme yang ada di Indonesia memiliki standar yang sesuai dengan Barat, seseorang akan dicap Radikal jika orang tersebut berjuang melawan penjajahan Barat malalui jihad fi Sabilillah, yang menginginkan syariat Islam diterapkan, Khilafah ditegakkan, bahkan untuk kasus toleransi, umat Islam yang menentang LGBT lah yang dituduh tidak toleran.

Baca Juga  Ada 27 Parpol Daftar sebagai Calon Peserta Pemilu 2019, Ini Daftarnya

Sirah Nabi Muhammad SAW haruslah diketahui, dipahami, dan diteladani oleh generasi saat ini, pemerintah melalui kementrian agama telah melakukan penghinaan terselubung terhadap sejarah Islam. Apa ada yang salah ketika anak-anak kita mengetahui sejarah perang yang dipimpin dan diikuti oleh Rasulullah SAW?!. Banyaknya peperangan dalam tarikh Islam tidak bisa dielakkan. Upaya pemerintah yang ingin lebih menonjolkan sisi pribadi Rasulullah SAW menjadi lebih humanis, dan toleran, seperti mengatakan bahwa ada yang salah jika sejarah peperangan yang ada diajarkan kepada generasi muslim saat ini. Hal ini jelas keliru, apalagi jika menganggap bahwa sejarah peperangan itu dianggap sebagai penyebab munculnya radikalisme. Naudzubillahi min dzalik.

Karenanya jika radikal yang dimaksudkan oleh Barat adalah dengan taat kepada Allah SWT, melaksanakan Islam secara kaffah, dan menjadikan Rasullulah SAW sebagai uswah, maka tidak ada kata takut untuk menjadi radikal, justru dengan Islamlah generasi umat terbaik ada. Insya Allah. Sebagaimana firman Allah SWT

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Artinya: Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (TQS. Ali Imran[3]: 110). (sumber)

Shares