Jumat , 15 Desember 2017

Bukan Umat Islam Penyerang Kantor Kemendagri, Cap Intoleran dan Radikalpun Hilang

Kantor Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia diserang Barisan Merah Putih Papua pada hari Rabu 11 Oktober 2017 Kemarin. Masa aksi pimpinan Wati Martha Kogoya seperti dilansir tribunnews.com, awalnya datang ke Kemendagri bermaksud untuk melakukan pengawasan dan sweeping terhadap tamu orang Papua yang masuk ke Kantor Kemendagri dan melarang untuk masuk apapun kepentingannya.

Usut punya usut, ternyata maksud kedatangan warga Papua ini untuk menyikapi masalah politik yang ada di Papua, terutama menyikapi Perselisihan Hasil Pemilihan (PHP) Bupati dan Wakil Bupati Intan Jaya, Provinsi Papua.

Selain itu juga Mereka meminta untuk segera dibentuknya Tim Investigasi kasus Pilkada di Papua pada 2017 serentak kemarin, ada 5 kabupaten di Povinsi Papua yang memiliki masalah di Pilkada serentak.

Wow!:  Tindak Tegas Ormas Intoleran Pengusir Ustaz Abdul Somad

Namun aspirasi mereka untuk disampaikan langsung ke Menteri dalam negeri urung dilakukan, karena mereka tidak bisa bertemu dengan Menteri Cahyo Kumolo. Namun pihak kemendagri pun bersedia untuk menerima para peserta aksi oleh Dirjen Otda, Soni Sumarsono.

Karena ada miss komunikasi, saat Dirjen Otda tengah melaksanakan shalat asar, massa aksi yang terdiri dari sekitar 30 orang itu tidak sabar menunggu dan menerobos masuk dari pintu depan.

Wow!:  Tiga Tahun Jokowi, Kabinet Kerja Sering Gaduh

Tidak hanya masuk, mereka juga meluapkan kemarahannya dengan melakukan pengrusakan fasilitas kantor dan juga penganiayaan terhadap para pegawai Kemendagri.

Kendaraanpun tak luput dari amukan massa, mereka melempari kaca kantor Kemendagri dan juga mengrusak pot-pot yang ada dihalaman kantor.

Berbeda dengan aksi damai umat Islam, pada aksi 411 dan 212 serta aksi-aksi serupa lainnya, walaupun dihadiri oleh jutaan kaum muslimin se-Indonesia dan aksi berjalan tertib dan damai, serta tak menyisakan sampah sedikitpun. Tapi banyak para tokoh, aktivis bahkan dari kalangan yang mengaku umat Islam sendiri turut serta mengkritik aksi damai tersebut.

Wow!:  Kemendagri Ingatkan Anies soal Gubernur Tak Seperti Presiden

Bahkan tidak sedikit dari mereka mengatakan yang ikut aksi sebagai umat yang intoleran dan radikal, padahal bukti keradikalan umat Islam dan sikap intoleransi umat Islam itu sendiri tidak tampak sampai saat ini.

Untuk kasus penyerangan kantor Kemendagri sampai saat tulisan ini diturunkan, tim rajawaliekspres.com belum menemukan statatemen dari tokoh, aktivis dan siapapun mereka yang dulu berkata aksi bela Islam sebagai bentuk Intoleransi dan Radikalisme, menyebut aksi serang kantor Kemendagri ini sebagai tindakan yang radikal. (rajawaliexpress.com, 12/10/2017)

Shares