Senin , 20 November 2017

BEM-SI: Tindakan represif aparat yang berlebihan cermin ketidakadilan hukum

Aksi demonstrasi untuk mengevaluasi tiga tahun kepemerintahan Jokowi-JK oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia(BEM-SI) beberapa waktu lalu berakhir ricuh. Total dua orang Aktivis telah ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan dua belas orang lainya dikenakan wajib lapor.

Menanggapi hal ini, BEM-SI menilai tindakan represif yang dilakukan oleh aparat telah merusak nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia. Hal ini disampaikan oleh perwakilan BEM-SI, Ali Abdillah.

Baca Juga  Bicara Konsekuensi Hukum Jika Perpu Ormas Diterima Semua Agama selain Islam Harus Dibubarkan Eggy dilaporkan ke polisi

“Wajah demokrasi di Indonesia hari ini dalam kondisi titik nadir. Apapun alasannya, tindakan represif aparat Kepolisian terhadap aktivis yang menyuarakan aspirasi di muka publik, merupakan tindakan yang mencederai nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia,” kata Ali kepada Kiblat.net, Jumat malam (27/10), di Kantor Sekretariat ILUNI UI.

BEM-SI juga menilai tindakan represif aparat yang berlebihan dan cepat menetapkan tersangka terhadap aktivis mahasiswa merupakan cermin ketidakadilan hukum. Dia membandingkan hal tersebut dengan kasus-kasus lainnya, di mana polisi cukup lama dalam menetapkan tersangka.

Baca Juga  Badan Hukum Dicabut, Ust. Rakhmat: " ... semakin kelihatan rezim diktator"

Selain mengecam keras perilaku aparat terhadap kejadian tersebut, mereka juga meminta agar segala bentuk kriminalisasi terhadap gerakan mahasiswa dihentikan.

“Kami menuntut Kepolisian untuk membebaskan rekan-rekan mahasiswa yang ditangkap serta mencabut status tersangkanya, juga mendesak presiden untuk memerintahkan dan menegur Kapolri agar bertindak mengedepankan semangat demokrasi,” kata Ali.

Baca Juga  Sayangkan Tindakan Aparat, Felix Siauw: Apa Betul Keadilan di Negeri Ini Masih Ada?

BEM-SI juga menyatakan, masih akan mendukung penuh keberlanjutan gerakan mahasiswa sebagai bagian tak terpisahkan dari proses kontrol sosial atas kinerja pemerintah.

“Karena jika negara dan aparatnya gelap mata dan abai dalam menjalankan amanah reformasi, bukan tidak mungkin bangsa ini kembali masuk dalam gua gelap otoritarianism,” pungkasnya.

artikel ini telah dimuat Kiblat.net BEM-SI: Wajah Demokrasi Indonesia dalam Titik Nadir

Shares