Sabtu , 25 November 2017

Bangga Pencapaian Lapangan Gas, Tapi Kok Pemerintah Mau Impor?

Pemerintah berbangga diri akan kinerja hulu migas pada pencapaian produksi gas bumi. Hal ini dirasakan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan saat meresmikan fasilitas produksi gas lapangan Jangkrik di area Fasilitas Penerimaan Darat (Onshore Receiving Facility/ORF) milik Eni Muara Bakau, di Kelurahan Handil Baru, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Jonan menyampaikan apresiasi atas pencapaian yang diraih oleh Eni sebagai operator Blok Eni Muara Bakau. Selain produksi yang lebih cepat dari perkiraan, kapasitas produksinya juga melebihi dari target awal.

“Selamat kepada Eni. Setelah Blok Cepu yang dikelola oleh Exxon, Muara Bakau yang dikelola Eni luar biasa. Gas in lebih cepat kira-kira 6 bulan dari yang direncanakan. Dari 4 tahun jadi 3,5 tahun. Ini hematnya besar sekali. Saya apresiasi kepada manajemen Eni. Selamat,” ungkap Menteri Jonan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (31/10).

Wow!:  Papua Siaga Satu, Pemerintah Berani Nggak Mengakui Itu Kelompok Separatis?

Rencana kapasitas produksi yang ditargetkan dari blok ini adalah sebesar 450 ribu kaki kubik per hari (mmscfd), dan saat ini telah mencapai lebih dari 600 juta mmscfd atau setara dengan 100,000 barel setara minyak per hari (boed). Keberhasilan proyek ini sangat signifikan untuk menambah pasokan gas dalam negeri dan memenuhi target lifting gas bumi pada tahun 2017

“Produksi yang ditargetkan dari blok ini adalah sebesar 450 ribu kaki kubik per hari atau mmscfd, ini setara dengan 75 ribu barel minyak per hari, sekarang produksinya di atas 600 ribu mmscfd. Produksinya menambah kira-kira 100 ribu barel minyak per hari. Itu banyak sekali. Kalau kalau di total produksi minyak dan gas Indonesia setara minyak, itu sekitar 2 juta barel setara minyak per hari. 800 ribu minyak dan 1,2 juta gas. Sekarang operasi FPU Jangkrik menambah 100 ribu barel per hari, tambahnya 5 persen, ini sulit sekali,” imbuh Menteri ESDM.

Wow!:  Alibi Kemenkeu Terpatahkan, Fakta Revisi UU PNBP Dilakukan Sri Mulyani

Melihat prospek gas yang sangat menjanjikan ini, sehingga tak khayal Mantan Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro mengaku kaget mendengar wacana pemerintah berulang kali ingin melakukan impor gas.

Menurutnya pemerintah tidak mesti melakukan impor dan dia menyarankan agar pemerintah fokus mendorong kontraktor mengembangkan temuan cadangan lapangan migas yang ada.

“Saya kaget pemerintah mengatakan akan impor gas bumi. Impor itu last option saja karena ada banyak lapangan gas yang belum di kembangkan,” kata dia Kepada Aktual.com Saat ditemui usai menjadi pembicara Seminar (Dinamika Energi Global dan Ketahanan Energi) di Kampus Tri Sakti Jakarta, Sabtu (28/10).

Dia menyebut beberapa lapangan gas yang dapat memenuhi kebutuhan Indonesia yakni terdapat sumber gas di Natuna, proyek IDD, Masela, Tangguh dan terdapat temuan baru di dekat Tanggu yaitu Blok Kaswari.

Wow!:  Soal Kelompok Bersenjata Papua, Pemerintah Harus Tegas

“Ada Natuna, lalu IDD walau Chevron belum mengembangi sekarang, tapi gasnya ada di dalam tanah. Kemudian Masela, Itu kan besar sekali gasnya. Di Papua ada Tangguh, Lalu ada Kaswari Blok yang baru ditemukan dan dekat dengan tangguh,” tutur dia.

Jikapun pengembangan lapangan tersebut mengalami kendala keekonomian, ujar dia, pemerintah perlu melakukan intervesi dari akspek kebijakan fiskal.

“Sekarang kata kuncinya intervensi pemerintah dalam bentuk keekonomiannya seperti apa,” imbuhnya.

Selain itu, jikapun alasan keinginan pemerintah untuk impor gas karena faktor harga gas dalam negeri yang cukup tinggi, hal itu saran Purnomo; hanya perlu penataan oleh pemerintah dari aspek split wellhead hingga ke proses hilir.

aktual

Shares