Sabtu , 25 November 2017

Antara Persaudaraan dan Cinta

suami istri 680x365 Antara Persaudaraan dan Cinta

Hikmah & Renungan

Kamis 21 Zulhijjah 1435 / 16 October 2014 17:28

KISAH cinta para sahabat Nabi selalu membuat kita penuh haru. Kata orang cinta adalah sebuah rasa yang Allah anugrahkan kepada setiap makhluknya. Sayangnya, ia sering dijadikan sebagai alasan berbuat maksiat.
Cinta, jika berada pada seorang yang beriman, maka ia akan menentramkan. Karena hakekat cinta adalah bukan cinta terhadap manusia, tetapi cinta kepada sang Khalik. Jadi seharusnya, cinta pada pada sang khalik harus ditempatkan pada urutan yang paling utama, sebelum cinta kepada selainnya.
Sama halnya seperti Salman al-Farisi. Pada awal hidupnya ia adalah seorang bangsawan dari Persia yg akhirnya memeluk agama Islam.
Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yg dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah jg telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sbg kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yg halus, juga ruh yg suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yg pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yg akrab dg tradisi Madinah berbicara untuknya dlm khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yg dipersaudarakan dngannya, Abud Darda’.
”Subhanallah, wal hamdulillaah,” girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah SAW sampai-sampai beliau menyebutñya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dg sgala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yg bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yg datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yg mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi hal itu juga indah karena satu alasan; reaksi Salman.
Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” [Disarikan dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A. Fillah]Redaktur: Fatmah Hasan

Source: http://ift.tt/1F2yIxs

Shares