Senin , 20 November 2017

Akhir Ramadan Ada 825 Pasangan Menikah di Kota Ini

Ini bisa jadi sudah menjadi tradisi sebagian besar masyarakat Bojonegoro, memilih pernikahan pada malam terakhir Ramadan. Kemenag Bojonegoro mencatat, pada Jumat malam, 825 warga akan melangsungkan pernikahan. Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Bojonegoro Masduki menjelaskan, masih banyaknya warga yang memilih untuk menikah di malam terakhir Ramadan disebabkan beberapa hal.

Di antaranya, hari itu adalah hari baik. Kebanyakan masyarakat tidak perlu berfikir panjang jika ingin menikah pada hari itu. Hal itu berbeda dengan hari lainnya yang harus ada banyak pertimbangan. ’’Kalau malam sembilan tanpa ada pertimbangan,’’ ungkapnya.

Baca Juga  Ada Penolakan, Polisi Berikan Pengamanan Ekstra di Tabligh Akbar Garut

Selain itu, cara termudah warga perantauan . Mereka baru pulang ke Bojonegoro menjelang Lebaran. Sehingga, pernikahan baru bisa dilakukan pada hari itu. Selain itu, ada banyak alasan-alasan lainnya. ’’Tentunya saya juga tidak tahu. Sebab, kami juga tidak menanyakan alasan mereka,’’ jelasnya.

Jumlah pernikahan tersebut tersebar di 27 Kecamatan di Bojonegoro. Sebab, ada satu kecamatan yang tidak ada yang menikah hari itu, yaitu Sekar. Ada lima kecamatan yang angka pernikahannya tertinggi, yaitu Sumberrejo, Baureno, Kepohbaru, Kedungadem, dan Kanor. Dari jumlah angka pernikahan tersebut, semuanya dilakukan ijab kabul di rumah.

Baca Juga  Ironi, Pemerintah Gencar Program “BBM Satu Harga”, Pertamina Justru Buat Stok BBM Langka

Sebagian besar memang karena pilihan. Namun, ada sebagian lagi yang karena terpaksa menikah di rumah. Sebab, Jumat besok sudah masuk cuti libur Lebaran. Sehingga, kantor urusan agama (KUA) di seluruh Indonesia tidak lagi buka. ’’Jadi, terpaksa menikah di rumah,’’jelasnya. Untuk melangsungkan pernikahan di rumah, calon pengantin harus melakukan beberapa persyaratan. Yaitu, membayar uang nikah melalui sistem e-billing di bank yang ditunjuk pemerintah.

Baca Juga  Pesta Miras di Gala Dinner J&T, Umat Islam Boikot Ekspedisi J&T

Biaya yang dibutuhkan adalah Rp 600 ribu. Menurut Masduki, potensi pema sukan negara pada nikah malam sembilan itu sangat besar. Di Bojonegoro, nilainya sekitar Rp 495 juta. Itu hanya untuk pernikahan satu hari di Bojonegoro. Belum di seluruh provinsi di Indonesia. Masduki menjelaskan, akhir-akhir ini masyarakat memang lebih memilih menikah di rumah dibanding di KUA. Padahal, nikah di rumah dikenakan biaya. Me nge nai hal tersebut, KUA hanya melayani saja apa yang menjadi permintaan masyarakat. (zim/nas/JPG)

Shares