Sabtu , 25 November 2017

Ada Muatan Politis dalam Isu Intoleransi dan Radikalisme

Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek dan Kebudayaan Bappenas Amich Alhumami mengatakan fenomena intoleransi dan radikalisme yang muncul belakangan ini tak lain karena muatan politik.

“Politik identitas berbasis agama banyak digunakan, dan itu power gate intinya. Paradoks di kalangan kelas pendidik, itu juga politik yang bekerja,” kata dia.

Maka dari itu, ia mengaku tidak heran jika muncul gerakan perlawanan terhadap fenomena itu. Dimana (Aksi) 212 disebut intoleran, muncul gerakan Kebhinnekaan. “Itu power gate, political contest (perebutan politik),” kata dia.

Wow!:  Innalillahi! 800 Ribu Pengungsi Rohingya Dalam Kondisi Sangat Akut :(

Amich kemudian memberi contoh lain tentang anggapannya tersebut. “Tak heran jika Front Pembela Islam yang melakukan aksi sweeping disebut sebagai intoleran, namun di satu sisi ada Banser yang melakukan pembubaran pengajian tak disebut sebagai intoleran. Hal ini dikarenakan ada politik yang bermain di belakangnya,” jelas Amich.

Wow!:  Asy-Syabaab telah menunjuk amir baru setelah syahidnya Abu Zubair

“Saya tidak tau siapa di belakangnya, tapi memang sekarang ini tidak berimbang, satu kelompok disebut intoleran, sedangkan kelompok lain terkesan dibiarkan,” tukasnya.

Diketahui, Amich Alhumami hadir sebagai pembicara dalam acara pemaparan Survey Nasional tentang ‘Api dalam Sekam Keberagaman Gen Z’ yang dikeluarkan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Wow!:  Kisruh Pembelian Senjata, Polri Utus Kabaintelkam dalam Tim 11

Selain Amich, pembicara yang diundang adalah Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. Phil., Kamaruddin Amin, MA; Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti RI Prof. Intan Ahmad, Ph.D; Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud RI Hamid Muhammad M.Sc., Ph.D dan Dewan Direktur PPIM (Pusat Pengkajian Isl dan Masyarakat) Prof. Dr. Jamhari Makruf, M.A.

kiblat

Shares