Jumat , 20 Oktober 2017

TNI sita senjata Brimob, Fadli Zon minta pemerintah segera selesaikan

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyarankan pemerintah untuk segera menyelesaikan polemik pengadaan senjata. Hal ini menyusul langkah Mabes TNI menyita amunisi SAGL 40×46 milik Brimob Polri yang tertahan di kargo Bandara Soekarno pada (9/10) malam.

“Ini kan polemik yang datang dari pemerintah dan seharusnya diselesaikan oleh pemerintah. Nanti kalau dibawa ke DPR ya bisa saja tapi alangkah baiknya di pemerintah,” kata Fadli di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/10).

“Ini menurut saya kalau bisa diselesaikan di pemerintahan, Presiden seharusnya sejak awal bisa mengantisipasi ini, kalau ada antisipasi dari awal saya kira tidak terjadi masalah ini,” sambungnya.

Gerak cepat pemerintah diperlukan agar tidak mendapatkan opini buruk dari dunia internasional hanya masalah perebutan senjata. Menurutnya, masalah senjata tersebut menunjukkan ada koordinasi yang tidak berjalan di level pemerintahan.

Baca Juga  Begini Jika Perppu Ormas Ditolak DPR

“Coba bayangkan kalau negara-negara lain melihat kalau alutsista ini terjadi perebutan di antara institusi atau lembaga di kita, jadi kita berharap diselesaikanlah di antara pemerintah apapun hasilnya,” tegasnya.

Fadli melanjutkan, pemerintah harus segera menyelesaikan masalah ini agar tidak menimbulkan konflik antara Polri dan TNI. Kemudian, kata Fadli, harus diperjelas soal kewenangan penggunaan senjata agar tidak terjadi tumpang tindih.

“Itu maksud saya yang harus didudukkan, siapa sih yang sebenarnya berhak untuk mempunyai, memiliki atau menggunakan persenjataan itu, standarnya seperti apa, pasti kan ada SOP nya,” tandasnya.

Baca Juga  Agar Bisa Beraktivitas Lagi HTI Minta Pembubarannya Dibatalkan

Menko Polhukam Wiranto telah mengklaim kasus pengadaan senjata ilegal sudah selesai. Fadli memiliki pandangan berbeda. Dia menyebut jika masih ada kejadian tahan menahan senjata menandakan masalah tersebut belum selesai.

“Tapi rapat gabungan hari jumat dilaksanakan seharusnya sudah selesai, tidak ada polemik lagi, ini kalau masih ada polemik berarti masih ada masalah, berarti tidak selesai masalahnya,” tukasnya.

Sebelumnya, Mabes TNI menyita amunisi SAGL 40×46 milik Brimob Polri yang tempo hari tertahan di kargo Bandara Soekarno. 5932 Amunisi tajam diamankan TNI di gudang amunisi Mabes TNI tadi malam (9/10).

“Bahwa tadi malam amunisi sudah dipindahkan ke gudang amunisi Mabes TNI sesuai dengan katalog yang menyertai sejumlah 5.932 butir amunisi,” ujar Kapuspen Mabes TNI Mayjen Wuryanto saat konferensi pers di Taman Ismail Marzuki, Selasa (10/10).

Baca Juga  UU Ormas Lebih Maju Ketimbang Perppu, Apakah Pemerintah Menjadi Otoriter Seperti Era Orde Baru?

Amunisi granat yang diamankan merupakan amunisi standar militer. Penggunaannya tidak diperuntukkan bagi Polri.

Wuryanto menyebut amunisi itu memiliki daya ledak yang kuat dan dapat meluluhlantahkan sepasukan. Malah ia menyebut TNI sendiri tidak mempunyai amunisi seperti itu.

“Sangat jelas dalam katalog bahwa amunisi tajam mempunyai radius mematikan 9 m jarak capai 400m. Keistimewaan amunisi adalah setelah meledak, kemudian meledak kedua dan menimbulkan pecahan lobang-lobang kecil yang melukai maupun mematikan. Granat bisa meledak sendiri tanpa benturan setelah 14-19 detik lepas dari laras,” papar Wuryanto. [dan] (merdeka.com, 11/10/2017)